Analisis Potensi Ancaman
Bagian Ke-enam : Republik Rakyat Cina


Oleh : Alan

Dalam paparan yang disajikan secara berseri ini, akan dibahas tentang potensi-potensi ancaman terhadap negara RI. Pada Bagian Pertama adalah Australia, disusul oleh India pada Bagian Ke-dua. Muang Thai akan disampaikan pada Bagian Ke-tiga, kemudian Singapura pada Bagian Ke-empat, lalu Malaysia pada Bagian Ke-lima dan akhirnya RRC pada Bagian Ke-enam.


Tentang PLA, kita bisa membuat cerita besar. PLA (People Liberation Army) adalah pasukan berukuran raksasa. Yang membuat potensi ancaman menjadi tidak begitu besar adalah jarak, serta adanya wilayah barrier, yaitu Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Philipina, yang masing-masing berada di bawah payung militer AS. Di sebelah Barat, PLA berhadapan dengan India. Di sebelah Timur berhadapan dengan Jepang dan AS. Ditinggalkannya doktrin perang Mao, serta keberadaan doktrin universalis komunis yang membawa PLA menjadi tokoh antagonis di kawasan ini.

PLAN (PLA Navy) memiliki tiga armada, Utara, Timur dan Selatan. Armada Utara adalah armada utama, dengan lebih dari 500 kapal dan dua armada kapal selam. Berbasis di Qingdao, Provinsi Shandong, Armada Utara berhadapan dengan Rusia, Korea dan Jepang. Armada Timur berhadapan dengan Taiwan dan Samudra Pasifik. Berbasis di Ningbo, Provinsi Zhejiang. Program utama PLA adalah mendukung penyatuan kembali Taiwan. Hal ini membawa tugas besar pada Armada Timur, yang telah beberapa kali mengambil posisi siap menyerbu Taiwan. Potensi ancaman bagi TNI adalah armada terlemah diantara ketiga armada PLAN, yaitu Armada Selatan. Basisnya di Zhenjiang. Berhadapan dengan kekuatan laut minor di Laut Cina selatan.

Total kekuatan sekitar 20 perusak, 40 fregat, 60 kapal selam, 3 divisi pasukan, 6000 marinir, dilengkapi pesawat: 600 J5/6/7, 130 H5, 25 H6 (Tu16), 600 J8, semua berbasis pantai.

Tulang punggung PLAN saat ini adalah kekuatan armada kapal selamnya, yang diperkuat lebih dari 60 kapal selam listrik dan beberapa kapal selam nuklir dari berbagai tipe. Armada mengapung mengandalkan DDG, seperti kelas Luhai, serta FFG kelas Jiangwei. 8.600 ton DDG Type 59 baru dibangun, serta beberapa DDG kelas Sovremenny baru dan akan dibeli dari Rusia.

Kepemilikan rudal penjelajah, balistik dan taktis (sekelas Tomahawk) membuat PLAN sebenarnya bukan tandingan bagi negara-negara Asia Selatan. Hanya saja serangan terbatas dari Armada Selatan PLAN masih mungkin dapat dibendung.

Mengenai nuklir, PLA memiliki 20 DF5 ICBM dengan jarak jangkau 13.000 km. Di samping itu tersedia lebih dari 10 DF4 (4.700 km), 30 DF3 dan 30 DF21, total terdapat 80 IRBM. Selain itu masih ada 120 bomber dengan kemampuan nuklir, serta 12 SLBM (Submarine Launched Balistik Missile) dengan jarak 1.700 km.

TNW (Tactical Nuclear Weapon) mungkin tersedia sekitar 150, yang dapat dikirimkan dengan DF15 SLBM. Sekalipun hal ini masih dibantah oleh pejabat resmi.

Kekuatan nuklir PLA tidak akan digunakan terlebih dahulu, khususnya dalam keberadaan kekuatan nuklir AS. Namun dalam perang total PLA memiliki kemampuan memusnahkan seluruh Indonesia. Mengenai ancaman ini baru bisa dibicarakan lebih lanjut setelah TNI diperbaiki.

Terlepas dari kemampuan nuklir, PLAN hanya memiliki kemampuan untuk melakukan konflik terbatas dengan TNI dalam perang laut. Armada raksasa PLAAF dengan ribuan pesawatnya, umumnya tidak dapat menjangkau Indonesia, selain beberapa Su-27, (mungkin ada Su-30), serta pembom Tupolev. Sekali pun demikian, dalam konflik terbatas TNI tetap tidak akan mampu berhadapan dengan PLAN, mengingat armada lautnya yang jauh di atas TNI dari segi jumlah dan mutu. Namun dengan hanya 6.000 marinir dan 3 divisi pasukan, ancaman serangan ke darat dapat diabaikan untuk sementara waktu.

Potensi ancaman akan membesar jika PLAN mewujudkan cita-citanya membentuk armada laut biru, dengan mengadakan carrier. Kombinasi dengan pembaruan armada udara PLAAF dari seri J5/6/7 ke standar Su-27, serta pengadaan Backfire, disertai dengan penambahan jumlah pasukan marinir akan membuat PLA sebagai superpower militer di kawasan ini.

Pertanyaan yang harus dijawab adalah apa kebijakan Indonesia jika terjadi konflik di Laut Cina Selatan, dan negara-negara ASEAN di serang oleh PLA.


Analisis lain potensi ancaman : Australia, India, Muang Thai, Singapura, Malaysia


Kirim saran untuk Pemelihara Ksatrian

| Tulisan | Sistem Senjata | Kajian | Arsip|
| Polri | Resimen Mahasiswa | TNI|
| Halaman Utama |