Ungkapan di atas disampaikan oleh pakar sistem penerbangan USA, Donald
Weitzman and Steven Barry, mengomentari pentingnya faktor manusia dalam
sistem terbaru penerbangan sipil masa depan, free flight. Free
flight adalah sistem terbang berbasis teknologi tinggi dimana peran
ground control diminimalisir sedapat mungkin. Berbekal teknologi
navigasi seperti GPS/GNS, penginderaan (ADS), komunikasi (datalink),
pendeteksi konflik dan resolusinya (TCAS), serta dilengkapi sistem yang
mampu mengatur jarak dan kerapatan terbang secara otomatis (AERA/CTAS),
pilot bisa bebas terbang dan memilih sendiri rute terbangnya di angkasa tanpa
mesti banyak tergantung pada bimbingan dari ground control seperti
sistem sebelumnya.
Dengan kata lain, free flight adalah suatu sistem terotomat pilot,
dalam versi yang jauh lebih menyeluruh, dimana dengannya muatan kerja, baik
pilot ataupun ground control, menjadi lebih ringan. Ini sesuai
dengan filosofi di balik pemikiran tentang sistem otomasi, yaitu bagaimana
merancang sistem teknologi yang sedapat mungkin mendukung kinerja manusia
sebagai operatornya. Sejauh itu, teknologi ini berhasil. Namun apa yang
terjadi ketika teknologi tersebut malah digunakan untuk keperluan lain ?
Kelemahan teknologi otomasi itu adalah ketergantungannya pada
pemrograman. Seperti diketahui, teknologi bekerja berdasarkan perintah
dari programnya. Maka, titik kelemahan terbesarnya adalah ketika sistem
dihadapkan pada suatu situasi yang unexpected, sama sekali baru, atau
berbeda dari kondisi yang pernah dipelajarinya.
Pada situasi-situasi inilah kemungkinan kerawanan sistem membesar. Tragedi
Black September pada 11 September 2001 lalu telah membuktikan bahwa
kerawanan itu bukan lagi suatu kemungkinan, melainkan kenyataan. Sistem
otomasi pada pesawat jet Boeing 767 dan 757 dimanfaatkan oleh pembajak untuk
keperluannya sendiri.
Memang masih tersisa pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana proses
pembajakan itu berlangsung, apakah pembajak mengambil alih kokpit dengan
cara kekerasan atau sebaliknya. Perlu juga dipertimbangkan bahwa pilot sipil
umumnya dilatih untuk bertindak kooperatif dengan pembajak demi kepentingan
keselamatan penumpang. Karena itu, bisa saja yang perlu dilakukan oleh
pembajak hanyalah menguasai kokpit dengan cara apa pun juga, namun tetap
mempertahankan pilot agar sasaran pembajakan dapat dicapai.
Namun cara berpikir suatu aksi terorisme menuntut adanya suatu skenario
alternatif yang berlapis, sedemikian sehingga target pembajakan tetap
tercapai, apapun yang terjadi. Untuk itulah, penulis berkeyakinan bahwa para
pembajak haruslah mereka yang memiliki kemampuan mengendalikan kokpit. Satu
hal yang tidak mudah memang, namun jadi jauh lebih mudah dengan adanya
perangkat otomasi yang -memang- terpasang pada sistem kokpit di Boeing 767
dan 757.
Berdasarkan peristiwa itu pula industri penerbangan kini terobsesi pada
usaha meningkatkan keamanan penerbangan dengan berbagai cara. Mulai dari
penguatan pintu kokpit, mempekerjakan sky marshal (polisi udara),
mempersenjatai awak udara, sampai ke penerapan program safe mode yang
terpadu dengan sistem kendali kokpit, yaitu ground control akan
mengunci (locked on) koordinat pesawat ketika terdeteksi menyimpang dari
koordinat semula. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing, namun langkah ke arah sana mutlak ditempuh.
Sistem manual yang serba terbatas, memaksa seorang navigator untuk
mengandalkan seluruh kemampuan memori spatial, memori berhitung, serta
jelajah visualnya dalam bekerja. Sebaliknya, GPS, radar dan sebagainya,
telah menyodorkan data-data tersebut dan si navigator tinggal mengklik
tombol di panel untuk mengetahui apa saja yang diinginkannya. Navigator
tak perlu lagi bersusah payah menghitung-hitung koordinat, kecepatan dan
ketinggian pesawat, cukup dengan hanya menyimak layar indikator.
Keputusan bisa diambil lebih cepat dan relatif lebih mudah.
Di pihak lain kemudahan yang ditawarkan oleh komputer nyata-nyata
menimbulkan ketergantungan manusia terhadap teknologi. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa teknologi otomasi telah mengendurkan taraf
kewaspadaan situasi (situation awareness) pada pilot. Kebiasaan
bersandar pada komputer membuat fungsi-fungsi mentalnya (sering
diistilahkan sebagai "naluri terbang") lambat laun jadi tak terasah.
Keadaan ini bisa jadi fatal, ketika tiba-tiba teknologi itu dihadapkan pada
situasi yang tak pernah teracara sebelumnya. Belum lagi bila sistem itu
sendiri mengalami kerusakan, baik secara teknis maupun disengaja, seperti
misalnya hacking, atau malah pembajakan. Patut dipertimbangkan juga
yaitu bahwa sistem informasi yang menjadi gantungan dari teknologi otomasi
ini amat tergantung pada kinerja satelit. Mudah saja bagi siapa pun yang
memiliki kemampuan dan menggapai yang dibutuhkan, untuk melakukan penyadapan,
atau mengacaukan koordinat, langsung via satelitnya. Celakalah negara-negara
yang tidak memiliki satelit sendiri.
Secara makro, fenomena ketergantungan terhadap teknologi ini bisa juga
dilihat sebagai lubang besar dalam kemajuan teknologi dewasa ini. Di abad
yang serba cermat dan rinci ini, kecenderungan pola berpikir yang berkembang
adalah pola berpikir algoritmis, teratur dan serba taat logika, persis
seperti program komputer. Padahal teknologi sendiri juga berkembang, di mana
premis-premis dalam alur logikanya pun menjadi kenyal, sesuai perkembangan
jaman.
Teknologi sebenarnya cuma alat yang digunakan manusia untuk menjawab
tantangan hidup. Jadi, faktor manusia dalam teknologi, adalah sangat penting.
Ketika manusia membiarkan dirinya dikuasai teknologi, maka manusia yang lain
akan mengalahkannya. Tak perlu dengan adu balap teknologi yang lebih canggih,
cukup dengan mendobrak alur berpikir yang algoritmis tadi, lalu menggantinya
dengan cara berpikir acak. Pengaruh kejutnya ini bisa jadi nilai plus. Dan
pola berpikir itulah yang bisa kita lihat mewarnai serangan terhadap USA,
11 September 2001 lalu.
Indonesia, sebagai negara berkembang yang terus terpuruk secara moral,
ekonomi dan mental ini harus kembali memfokuskan diri pada pemberdayaan
sumber daya manusianya. Pelajaran yang bisa diambil dari berbagai peristiwa
Black September itu adalah, bahwa teknologi canggih sekalipun tetap
tergantung pada manusia, sebagai operatornya.
Hal ini sebenarnya telah lama dipertunjukkan oleh para pendahulu negeri ini.
Dengan hanya berbekal bambu runcing dan senjata rakitan, orang Indonesia
telah terbiasa berperang melawan musuh yang senjatanya berlipat kali lebih
canggih. Hasilnya relatif tidak mengecewakan, karena sekarang terbukti kita
merdeka. Juga ada kisah tentang pesawat-pesawat cureng peninggalan Jepang,
yang sebenarnya tak laik terbang lagi, namun ternyata malah berhasil
dimanfaatkan para pendiri AU di negeri ini untuk melakukan operasi udara
pertama di Ambawara, 21 Juli 1947. Kondisi pesawat itu demikian buruknya
sampai penerbang Inggris mengomentarinya sebagai "peti mati". Namun toh,
mereka sukses. Di sini lagi-lagi terbukti bahwa teknologi saja tidaklah
cukup, perlu ada semangat dan otak manusia yang tahu cara mengendalikannya,
atau bahkan mengakalinya, setiap ada masalah.
Faktor Manusia Dalam Teknologi
Oleh : Rita (melati747@yahoo.com)
Technology alone is not enough.
Pola Berpikir
Teknologi otomasi memang menjanjikan banyak perubahan pada cara berpikir
manusia, baik itu dalam usaha pemecahan masalah, perencanaan, mau pun
juga dalam pengambilan keputusan. Para pakar ilmu kognitif telah menemukan
bahwa ketika teknologi mengambil alih fungsi-fungsi mental manusia. Pada
saat yang sama, terjadi kerugian yang diakibatkan oleh hilangnya
fungsi-fungsi tersebut dari kerja mental manusia. Manusia yang -tadinya-
diuntungkan oleh berfungsinya jejak-jejak memori akibat operasi mental
seperti berpikir, menghitung dan mengkonstruksi ruang, harus kehilangan
jejak tersebut karena tugasnya sudah diambil alih komputer.
Kerjasama Manusia-Teknologi
Memang betul bahwa manusia memiliki keterbatasan. Keterbatasan inilah
yang lalu harus ditutupi oleh teknologi. Bagaimana pun, kendali tetap
sepenuhnya ada di tangan manusia. Oleh sebab itu, pendidikan manusia
tetap harus berada pada peringkat ke-satu, serta tidak hanya melakukan
pemujaan terhadap teknologi tinggi belaka.
| Tulisan
| Sistem Senjata
| Kajian
| Arsip|
| Polri
| Resimen Mahasiswa
| TNI|
| Halaman Utama |