Faktor Manusia Dalam Teknologi


Oleh : Rita (melati747@yahoo.com)


Technology alone is not enough.

Ungkapan di atas disampaikan oleh pakar sistem penerbangan USA, Donald Weitzman and Steven Barry, mengomentari pentingnya faktor manusia dalam sistem terbaru penerbangan sipil masa depan, free flight. Free flight adalah sistem terbang berbasis teknologi tinggi dimana peran ground control diminimalisir sedapat mungkin. Berbekal teknologi navigasi seperti GPS/GNS, penginderaan (ADS), komunikasi (datalink), pendeteksi konflik dan resolusinya (TCAS), serta dilengkapi sistem yang mampu mengatur jarak dan kerapatan terbang secara otomatis (AERA/CTAS), pilot bisa bebas terbang dan memilih sendiri rute terbangnya di angkasa tanpa mesti banyak tergantung pada bimbingan dari ground control seperti sistem sebelumnya.

Dengan kata lain, free flight adalah suatu sistem terotomat pilot, dalam versi yang jauh lebih menyeluruh, dimana dengannya muatan kerja, baik pilot ataupun ground control, menjadi lebih ringan. Ini sesuai dengan filosofi di balik pemikiran tentang sistem otomasi, yaitu bagaimana merancang sistem teknologi yang sedapat mungkin mendukung kinerja manusia sebagai operatornya. Sejauh itu, teknologi ini berhasil. Namun apa yang terjadi ketika teknologi tersebut malah digunakan untuk keperluan lain ?

Kelemahan teknologi otomasi itu adalah ketergantungannya pada pemrograman. Seperti diketahui, teknologi bekerja berdasarkan perintah dari programnya. Maka, titik kelemahan terbesarnya adalah ketika sistem dihadapkan pada suatu situasi yang unexpected, sama sekali baru, atau berbeda dari kondisi yang pernah dipelajarinya.

Pada situasi-situasi inilah kemungkinan kerawanan sistem membesar. Tragedi Black September pada 11 September 2001 lalu telah membuktikan bahwa kerawanan itu bukan lagi suatu kemungkinan, melainkan kenyataan. Sistem otomasi pada pesawat jet Boeing 767 dan 757 dimanfaatkan oleh pembajak untuk keperluannya sendiri.

Memang masih tersisa pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana proses pembajakan itu berlangsung, apakah pembajak mengambil alih kokpit dengan cara kekerasan atau sebaliknya. Perlu juga dipertimbangkan bahwa pilot sipil umumnya dilatih untuk bertindak kooperatif dengan pembajak demi kepentingan keselamatan penumpang. Karena itu, bisa saja yang perlu dilakukan oleh pembajak hanyalah menguasai kokpit dengan cara apa pun juga, namun tetap mempertahankan pilot agar sasaran pembajakan dapat dicapai.

Namun cara berpikir suatu aksi terorisme menuntut adanya suatu skenario alternatif yang berlapis, sedemikian sehingga target pembajakan tetap tercapai, apapun yang terjadi. Untuk itulah, penulis berkeyakinan bahwa para pembajak haruslah mereka yang memiliki kemampuan mengendalikan kokpit. Satu hal yang tidak mudah memang, namun jadi jauh lebih mudah dengan adanya perangkat otomasi yang -memang- terpasang pada sistem kokpit di Boeing 767 dan 757.

Berdasarkan peristiwa itu pula industri penerbangan kini terobsesi pada usaha meningkatkan keamanan penerbangan dengan berbagai cara. Mulai dari penguatan pintu kokpit, mempekerjakan sky marshal (polisi udara), mempersenjatai awak udara, sampai ke penerapan program safe mode yang terpadu dengan sistem kendali kokpit, yaitu ground control akan mengunci (locked on) koordinat pesawat ketika terdeteksi menyimpang dari koordinat semula. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, namun langkah ke arah sana mutlak ditempuh.


Pola Berpikir
Teknologi otomasi memang menjanjikan banyak perubahan pada cara berpikir manusia, baik itu dalam usaha pemecahan masalah, perencanaan, mau pun juga dalam pengambilan keputusan. Para pakar ilmu kognitif telah menemukan bahwa ketika teknologi mengambil alih fungsi-fungsi mental manusia. Pada saat yang sama, terjadi kerugian yang diakibatkan oleh hilangnya fungsi-fungsi tersebut dari kerja mental manusia. Manusia yang -tadinya- diuntungkan oleh berfungsinya jejak-jejak memori akibat operasi mental seperti berpikir, menghitung dan mengkonstruksi ruang, harus kehilangan jejak tersebut karena tugasnya sudah diambil alih komputer.

Sistem manual yang serba terbatas, memaksa seorang navigator untuk mengandalkan seluruh kemampuan memori spatial, memori berhitung, serta jelajah visualnya dalam bekerja. Sebaliknya, GPS, radar dan sebagainya, telah menyodorkan data-data tersebut dan si navigator tinggal mengklik tombol di panel untuk mengetahui apa saja yang diinginkannya. Navigator tak perlu lagi bersusah payah menghitung-hitung koordinat, kecepatan dan ketinggian pesawat, cukup dengan hanya menyimak layar indikator. Keputusan bisa diambil lebih cepat dan relatif lebih mudah.

Di pihak lain kemudahan yang ditawarkan oleh komputer nyata-nyata menimbulkan ketergantungan manusia terhadap teknologi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa teknologi otomasi telah mengendurkan taraf kewaspadaan situasi (situation awareness) pada pilot. Kebiasaan bersandar pada komputer membuat fungsi-fungsi mentalnya (sering diistilahkan sebagai "naluri terbang") lambat laun jadi tak terasah.

Keadaan ini bisa jadi fatal, ketika tiba-tiba teknologi itu dihadapkan pada situasi yang tak pernah teracara sebelumnya. Belum lagi bila sistem itu sendiri mengalami kerusakan, baik secara teknis maupun disengaja, seperti misalnya hacking, atau malah pembajakan. Patut dipertimbangkan juga yaitu bahwa sistem informasi yang menjadi gantungan dari teknologi otomasi ini amat tergantung pada kinerja satelit. Mudah saja bagi siapa pun yang memiliki kemampuan dan menggapai yang dibutuhkan, untuk melakukan penyadapan, atau mengacaukan koordinat, langsung via satelitnya. Celakalah negara-negara yang tidak memiliki satelit sendiri.

Secara makro, fenomena ketergantungan terhadap teknologi ini bisa juga dilihat sebagai lubang besar dalam kemajuan teknologi dewasa ini. Di abad yang serba cermat dan rinci ini, kecenderungan pola berpikir yang berkembang adalah pola berpikir algoritmis, teratur dan serba taat logika, persis seperti program komputer. Padahal teknologi sendiri juga berkembang, di mana premis-premis dalam alur logikanya pun menjadi kenyal, sesuai perkembangan jaman.

Teknologi sebenarnya cuma alat yang digunakan manusia untuk menjawab tantangan hidup. Jadi, faktor manusia dalam teknologi, adalah sangat penting. Ketika manusia membiarkan dirinya dikuasai teknologi, maka manusia yang lain akan mengalahkannya. Tak perlu dengan adu balap teknologi yang lebih canggih, cukup dengan mendobrak alur berpikir yang algoritmis tadi, lalu menggantinya dengan cara berpikir acak. Pengaruh kejutnya ini bisa jadi nilai plus. Dan pola berpikir itulah yang bisa kita lihat mewarnai serangan terhadap USA, 11 September 2001 lalu.


Kerjasama Manusia-Teknologi
Memang betul bahwa manusia memiliki keterbatasan. Keterbatasan inilah yang lalu harus ditutupi oleh teknologi. Bagaimana pun, kendali tetap sepenuhnya ada di tangan manusia. Oleh sebab itu, pendidikan manusia tetap harus berada pada peringkat ke-satu, serta tidak hanya melakukan pemujaan terhadap teknologi tinggi belaka.

Indonesia, sebagai negara berkembang yang terus terpuruk secara moral, ekonomi dan mental ini harus kembali memfokuskan diri pada pemberdayaan sumber daya manusianya. Pelajaran yang bisa diambil dari berbagai peristiwa Black September itu adalah, bahwa teknologi canggih sekalipun tetap tergantung pada manusia, sebagai operatornya.

Hal ini sebenarnya telah lama dipertunjukkan oleh para pendahulu negeri ini. Dengan hanya berbekal bambu runcing dan senjata rakitan, orang Indonesia telah terbiasa berperang melawan musuh yang senjatanya berlipat kali lebih canggih. Hasilnya relatif tidak mengecewakan, karena sekarang terbukti kita merdeka. Juga ada kisah tentang pesawat-pesawat cureng peninggalan Jepang, yang sebenarnya tak laik terbang lagi, namun ternyata malah berhasil dimanfaatkan para pendiri AU di negeri ini untuk melakukan operasi udara pertama di Ambawara, 21 Juli 1947. Kondisi pesawat itu demikian buruknya sampai penerbang Inggris mengomentarinya sebagai "peti mati". Namun toh, mereka sukses. Di sini lagi-lagi terbukti bahwa teknologi saja tidaklah cukup, perlu ada semangat dan otak manusia yang tahu cara mengendalikannya, atau bahkan mengakalinya, setiap ada masalah.


Kirim saran untuk Pemelihara Ksatrian

| Tulisan | Sistem Senjata | Kajian | Arsip|
| Polri | Resimen Mahasiswa | TNI|
| Halaman Utama |