Angkatan Laut Masa Depan
Oleh : Thomas B. Hayward


Dimuat dalam majalah Hai 28/VII 1983

Saat negara Uni Soviet masih ada dalam peta sejarah, kekuatan lautnya menggentarkan Amerika Serikat. Dengan latar belakang keadaan inilah Thomas B. Hayward -seorang admiral dari AL-AS waktu itu- menuliskan gagasannya mengenai sosok kekuatan laut idaman di masa depan, khususnya mengenai AS.


Mengapa AS membutuhkan Angkatan Laut ? Angkatan Laut seperti apa yang harus dimiliki oleh AS ? Dua pertanyaan ini adalah dasar pembentukan AL-AS. Karena langsung menunjuk pada kenyataan bahwa bagaimana pun juga AL-AS merupakan armada superior, maka dapatlah direncanakan dengan matang tentang bentuk dan kekuatannya untuk masa depan.

Keinginan untuk membentuk armada yang super ini adalah untuk menunjang gerakan strategis AS sendiri dalam hubungannya dengan negara-negara sekutu di seberang lautan. Armada Laut AS yang kuat menjamin kelangsungan hidupnya dan ini berarti secara langsung harus menguasai seluruh wilayah lautan. Karenanya kekuatan lawan yang berusaha menguasai daerah tertetu laut yang terbentang di antara Amerika dan negara sekutunya, haruslah dihalau.

Di zaman sekarang ini, -di mana mati hidupnya AS bukan hanya bergantung di ujung senjata tetapi juga benang untaian kegiatan ekonomi dengan negara-negara sekutunya- armada laut yang dimilikinya haruslah sanggup mengamankan jaringan tersebut, demi kelangsungan hidup negara AS sendiri.

Keperkasaan armada laut bukan berarti menguasai semua lautan di dunia, tetapi kesanggupan menguasai lautan yang berguna saja, dalam dan untuk masa perang mau pun masa damai. Kawasan ini meliputi kawasan laut yang kritis di daerah Eurasia dan jaringan hubungan vital di Atlantik, Pasifik dan Lautan Hindia.

Disebut vital, karena kawasan tersebut adalah daerah yang menghubungkan Amerika dengan Eropa Barat dan Jepang. Pendek kata, armada yang kuat harus bisa melindungi AS beserta kepentingannya di dunia.

Telah menjadi rahasia umum, bahwa AL-AS adalah tulang punggung kekuatan NATO di Eropa Barat. Bila peperangan meletus, maka tidak bisa tidak armada laut AS harus bertindak. Bahkan merupakan kunci utama untuk bisa menyapu kekuatan yang hadir di sekitar Laut Tengah dan Laut Norwegia. Perimbangan kekuatan yang wajar akan menimbulkan kedamaian di Eropa mau pun di sekitar Teluk Persia.

Bila perang pecah, maka armada AS harus berhadapan dengan kekuatan udara dan laut US, yang juga memiliki kepentingan di kawasan tersebut. menilik hal tersebut, maka daerah-daerah yang kaya minyak di kawasan Teluk Persia, tak luput pula.

Di masa damai, Armada Ke-7 yang selama ini beroperasi di Pasifik Barat, bisa bahu membahu dengan armada lainnya milik AS di seluruh kawasan pasifik, termasuk melindungi sekutunya seperti Jepang, yang dengannya AS memiliki perjanjian kemiliteran. Armada AS pun secara tak langsung bertanggung jawab terhadap gangguan yang ada di kawasan Samudera Hindia. Armada AS tidak hanya sanggup melindungi daerah tersebut dari gangguan kekuatan laut lawan, tetapi juga harus sanggup menciptakan perimbangan kekuatan di seantero dunia.

Sekali saja terjadi bentrokan yang serius antarnegara yang tergabung dalam NATO dan negara-negara Pakta Warsawa, maka perdamaian dunia terancam. Meski pun saat ini US secara geografi tidak memiliki pangkalan laut di negara-negara lain, tetapi untuk menambal kekurangan tersebut US telah memacu diri untuk menciptakan mesin perang yang hebat. Sementara AS menangguhkan beberapa rencananya untuk makin memperkuat sistem pertahanan lautnya, maka Rusia makin galak dengan pembuatan kapal dan persenjataan mereka, agar bisa melawan atau bahkan menghabisi dan merebut kekuatan AS di lautan. Usaha US ini ditunjang dengan pembuatan dan perluasan sarang kapal selam dan perakitan pesawat terbang yang tersebar di berbagai tempat. Usaha ini tak lain adalah untuk menunjang kekuatan armada laut mereka, agar bisa menandingi armada laut AS.

Pengamat kemiliteran sempat melemparkan dugaan, bahwa Soviet telah membuat kapal penjelajah modern yang tangguh, dengan bobot mati sekitar 30.000 ton dan digerakkan oleh tenaga nuklir. Dugaan ini belum terbukti sampai saat ini, apalagi Russia -pecahan terbesar Uni Soviet- tengah mengalami kesuraman ekonomi.

Di samping kapal tersebut, US juga membuat kapal sekelas dengan Ivan Rogov dan kapal induk sekelas Kiev, yang dilengkapi dengan rudal jarak jauh berkepala nuklir. Mengingat hal ini, AS haruslah mampu mempertahankan kedaulatannya di lautan. Satu-satunya cara adalah dengan mengimbangi kekuatan pihak musuh, baik dalam segi kemampuan mau pun jumlahnya.


Kirim saran untuk Pemelihara Ksatrian

| Tulisan | Sistem Senjata | Kajian | Arsip|
| Polri | Resimen Mahasiswa | TNI|
| Halaman Utama |