Tulisan mengenai intelijen ini merupakan gambaran yang ada sampai dengan ditampilkannya pada
majalah Tempo edisi 22 Januari 1994. Seluruhnya terdiri dari 3 bagian.
Dalam bukunya Rethinking Military Politics, pengajar di
Columbia University ini berpendapat, rezim militer di Amerika Latin
mempunyai 3 unsur :
MP terdiri atas para anggota militer yang menjadi pemimpin inti
di pemerintahan. MK merupakan semua unsur yang terlibat dalam
perencanaan dan eksekusi kebijakan represif, pengumpulan bahan
intelijen, interogasi dan operasi bersenjata.
Ada pun MI adalah bagian terbesar organisasi militer di luar dinas
intelijen yang mengawaki semua markas / pangkalan dan menjalankan program
latihan rutin, melola sekolah militer (kecuali intelijen), menjalankan
birokrasi militer dan merupakan cadangan strategis jika terjadi keadaan
darurat nasional. Derajat hubungan antara ketiga unsur ini yang
sangat menentukan warna rezim militer. Stepan mendeteksi empat
konfigurasi hubungan di negara-negara yang ditelitinya :
Di Brasil -misalnya- menurut Stepan yang terjadi adalah konfigurasi 4.
Setidaknya itu yang dikatakan Jendral Golbery Couto de Silva kepada
Stepan. Golbery adalah penasihat terdekat presiden terpilih Jendral
Ernesto Geisel, yang pada 1974 memulai proses liberalisasi di negeri
tempat Nazi pelarian penjahat perang itu. Golbery sendiri berkeras bahwa
tujuan jangka panjang pihak militer ketika mengambil alih kekuasaan
pada 1964, adalah pendemokrasian. Ironisnya, Golbery juga adalah bidan
yang melahirkan SNI, dinas intelijen Brasil, yang kemudian berkembang
menjadi sangat berkuasa, terutama akibat perang dengan gerilyawan kiri
pada kurun 1969-1972.
Demikian berkuasanya hingga pada 1973 Golbery berkesimpulan, MK telah
menjadi ancaman ganda bagi militer Brasil. Ancaman pertama adalah
terhadap persatuan militer sendiri dan ancaman ke-dua adalah semakin
melebarnya jurang pemisah antara masyarakat Brasil yang moderat dan
pihak militer, sebagai akibat dominasi SNI, terutama setelah gerilyawan
kiri tak lagi menjadi ancaman.
Proses liberalisasi yang pertama kali dijalankan Presiden Geisel adalah
kebijakan pers yang lebih bebas. "Sensor itu tak ada gunanya," katanya
ketika itu. Kebijakan sensor dianggapnya hanya memberikan kesempatan
bagi kelompok ekstrem untuk melemparkan tuduhan tanpa mendapatkan
jawaban, termasuk tuduhan ke pemrintah. Dan seperti dikatakan Golbery,
"pengekangan pers hanya menyuburkan ladang ML.".
Pengalaman Brasil yang memilih konfigurasi 4 tidaklah unik. Ini boleh
dikatakan merupakan sumber utama lahirnya gelombang pendemokrasian di
Amerika Latin dalam dekade 1990-an yang disebut Huntington sebagai
gelombang ke-tiga pendemokrasian di dunia. Gelombang pasang pertama
adalah 1828-1926, yang diikuti gejala surut pada 1922-1942. Gelombang
ke-dua pada 1943-1962 dan surut pada 1958-1973. Gelombang ke-tiga
dimulai pada 1974 dan Huntington belum melihat tanda-tanda mulai
menyurut.
Intelijen
Bagian Ke-1 : Empat Konfigurasi Intel
Disalin tanpa izin dari majalah Tempo, dengan perbaikan
seperlunya.
Di mana pun di dunia, tak perduli sistem pemerintahannya : otoriter
atau demokrasi liberal, dinas intelijen selalu menjadi kebutuhan
negara. Yang menjadi perbedaan utama biasanya pemanfaatannya dan
juga pengendaliannya. Dengan anggapan seperti itulah Alfred Stepan
-seorang pakar politik militer AS- mencoba menelaah proses demokratisasi
di Amerika Latin, berdasarkan peran militer dan dinas intelijennya.
Bagian Ke-2 : Pasang Surut Intelijen Kita
Bagian Ke-3 : Format Baru dari Markas Tebet
| Tulisan
| Sistem Senjata
| Kajian
| Arsip|
| Polri
| Resimen Mahasiswa
| TNI|
| Halaman Utama |