India dan RI : Prospek Kerjasama Militer


Oleh : Alan

This article does not reflect the opinion or view of the Goverment of the Republic of Indonesia, TNI, nor any non govermental organization. Writer of this article never have any relation to any political party, political movement nor any govermental organization. The writer has never been to India and has no personal interest in relationship betwen India and Indonesia. This article was specialy made for the Ksatrian. Data gathered from the internet and books without prior permission by the writer, therefor, you can quote this article without my permission too. :-)

Artikel ini berbicara mengenai prospek hubungan Indonesia dengan India. Sehubungan dengan makin baiknya hubungan antara kedua negara, serta munculnya kepentingan-kepentingan yang dapat saling menguntungkan antar kedua negara.


Sekilas India

  1. Ekonomi
    India memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Sekali pun belum digarap secara maksimal, namun perekonomian India sangat jauh lebih baik daripada Indonesia. Sekali pun demikian, reformasi dan restrukturisasi ekonomi serta privatisasi masih menghadapi berbagai kendala. Seandainya India menjalankan reformasi ekonominya dengan baik, maka sangat mungkin negara ini termasuk dalam salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia.

    Perekonomian India diperkuat oleh kehadiran industri dengan dasar teknologi yang cukup kuat. Program alih teknologi India termasuk cukup berhasil. Dalam industri TI yang merupakan arus dunia saat ini, India hadir sebagai pemain kelas atas. Demikian pula dalam bidang teknologi yang lain, para teknokrat India memiliki penguasaan yang cukup tinggi hingga mampu berbicara dalam dunia teknologi internasional. Kekuatan ini menjadi dasar kuat bagi perekonomian India. Perekonomian yang tidak akan begitu mudah digoyang seperti Indonesia yang mendasarkan pada perekonomian calo.

  2. Politik
    India merdeka 1947. Indonesia merdeka 1945. Lalu mengapa Indonesia tertinggal jauh dari India ? Alasannya sangat jelas. India secara mangkus merdeka tahun 1947, sedang Indonesia baru merdeka tahun 1999 setelah puluhan tahun dijajah oleh bangsa sendiri. India sejak awal menerapkan demokrasi dalam kehidupan politiknya. Dampaknya memang tidak sederhana. Berbagai kemelut dan kekacauan terjadi dalam pembentukan karakter demokrasinya. Bahkan hingga hari ini, demokrasi India masih dalam proses pembentukan. Tetapi dibandingkan dengan Indonesia tentu demokrasi India yang 50 tahun mendahului kini jauh lebih nyata bentuknya.

  3. Sosial
    Struktur sosial India mengakibatkan kesulitan tersendiri bagi perkembangan negara tersebut. Masih berlakunya pembedaan kasta, serta berbagai praktik tradisional tidak memungkinkan adanya pemerataan sosial. Demokrasi yang notabene milik masyarakat egaliter dikembangkan pada sistem sosial yang lebih sesuai untuk feodalisme.

    Dalam topik kerukunan beragama, sistem hukum dan kenegaraan India sangat maju dalam mendukung sistem negara yang sekuler. Dapat dikatakan bahwa India paling maju dalam hal ini, bahkan dibandingkan dengan Amerika Serikat, apalagi Indonesia. Tercatat satu orang Sikh dan dua orang Muslim pernah menjabat sebagai Presiden. Tidak ada batasan agama dalam rekrutmen militer maupun jabatan pemerintahan. Termasuk sebagai kepala staf atau pejabat intelijen.

    Satu yang perlu di catat adalah pengakuan atas daerah minoritas. Di daerah Islam di Utara (Kashmir) dan daerah Kristen di Timur Laut berlaku larangan membeli tanah bagi orang luar daerah. Hal ini diizinkan untuk mempertahankan kepemilikan penduduk setempat, agar daerah minoritas dapat tetap bertahan.

    Sekali pun demikian, ketidakmerataan ekonomi dan pendidikan serta keberadaan kelompok-kelompok fundamentalis dan suku-suku primitif menjadi penyebab sering timbulnya gejolak sosial dan tindak kriminal yang bertendensi SARA.

  4. Militer
    Mengenai postur militer India, khususnya yang berkaitan dengan Indonesia, pembaca dapat menyimak tulisan Analisa Potensi Ancaman : India, yang juga terdapat pada Ksatrian. Mungkin yang perlu ditambahkan adalah bahwa dengan kekuatan 1 juta prajurit, dilengkapi peralatan moderen dengan industri pendukung, serta anggaran militer yang sangat besar, militer India merupakan salah satu yang terkuat di dunia saat ini. Di Asia ia hanya dapat ditandingi oleh RRC. Adanya gabungan kekuatan militer, ekonomi, sosial, politik, sumber daya, serta teknologi memberi kesempatan bagi India untuk berkembang menjadi salah satu adidaya Asia.


Proyeksi Kemiliteran

Dengan anggaran sebesar US$ 13,6 miliar hanya untuk 2000/2001 ini, hanya US$ 1 miliar di bawah RRC -ini menurut pengakuan India, sementara RRC mengaku anggaran militernya jauh di bawah India- India menunjukkan kemampuannya untuk menjadi salah satu militer yang terkuat di Asia. Pengadaan dilakukan dengan mekanisme yang cukup kompleks dan profesional, sekali pun sebagai akibat dari masih besarnya ketergantungan teknologi, beberapa kasus sempat muncul. Berikut beberapa pengadaan yang patut dicatat:

  1. Angkatan Darat
    Angkatan Darat dengan bangga menantikan 300 T-90 Russia, selain berbagai macam radar, UAV, howitzer dan roket BM21 Grad M yang akan memperkuat peluncur roket lokal Arjun. Sebagian besar amunisi dibeli dari Israel. Demikian pula banyak proses upgrade persenjataan dilakukan dengan bantuan Israel.

    Mirip seperti di Indonesia, tapi dalam taraf yang jauh lebih rendah, korupsi juga merupakan momok yang menghantui militer India dalam pengadaan persenjataan, di samping tentu saja kesalahan pengambilan keputusan. Namun berbeda dengan Indonesia, upaya melakukan pengamanan atas kebocoran telah dilakukan dengan meningkatkan audit sejak 1985. Contoh isu yang beredar, bahwa implementasi MiG-29K untuk Gorshkov adalah dipaksakan. SU-30 yang dikirim disebut hanyalah SU-27 yang diupgrade. Demikian pula versi T-90 yang akan diterima India, disebutkan sebagai model eksperimental yang pada prinsipnya hanyalah T-80 yang dilengkapi dengan mesin disel baru.

  2. Angkatan Laut
    Angkatan Laut akan diperkuat dengan MiG-29K yang satu paket dengan kapal induk Admiral Gorshkov. Banyak kritik tentang hal ini, karena Gorshkov sebenarnya tidak dibuat untuk mengangkut MiG-29K, bahkan lebih merupakan pengangkut helikopter, atau maksimal Yak. Implementasi MiG-29 untuk carrier base aircraft sendiri masih belum populer.

    Pengadaan TU-22M Backfire untuk maritime aircraft cukup penting, mengingat kategorinya sebagai pembom jarak jauh, yang sanggup menyerang sebelum dikenali oleh radar. Ditambah dengan TU-142M (ASW). Selain itu, empat kapal selam Kelas Kilo akan menambah armada kapal selam India.

    Yang juga perlu dicatat adalah bahwa India menyewa beberapa peralatan militer dari Rusia. Termasuk di antaranya adalah kapal selam nuklir seperti INS Chakra. Metode sewa ini seharusnya juga dipertimbangkan Indonesia, daripada membeli peralatan dalam jumlah tidak memadai dan tidak memiliki fungsi militer.

    Israel turut membantu dalam melakukan modernisasi kapal-kapal tempur India, khususnya dalam teknologi radar dan perlengkapan electronic warfare lainnya.

  3. Angkatan Udara
    Angkatan Udara menantikan kedatangan 50 SU-30MKI yang disertai dengan alih teknologi. Ini menandai peningkatan standar fighter India, sekali pun dalam implementasinya masih bermasalah.

    Pembelian 10 Mirage 2000 menunjukkan bahwa India tidak meninggalkan teknologi Prancis. Namun karena penolakan India atas NPT kemungkinan Prancis tidak akan memberikan teknologi Mirage yang terakhir.

    India juga telah melakukan upgrade lokal atas 125 MiG-21 yang dimilikinya. Mempertahankan wing lama tempur ini sangat dibutuhkan untuk menandingi superioritas jumlah jet tempur RRC. Sedang dirundingkan kemungkinan pembelian Beriev A-50 (Mainstay), pesawat AWACS Rusia. Perlu menjadi pertimbangan Indonesia untuk turut membeli Beriev dibandingkan state of art AWACS AS, khususnya karena pertimbangan ketersediaan pasokan serta minimnya kemungkinan berhadapan dengan Rusia (zero enggagement possibility) dalam 50 tahun ke depan.

    Selain itu, 40 helikopter Mi-17-1B versi upgrade juga sedang dinantikan pengirimannya. Heli ini dapat beroperasi pada high altitude, sesuai dengan geografi India di perbatasan dengan Cina dan Pakistan. Pilihan ini perlu menjadi pertimbangan untuk operasi TNI di Irian. Juga perlu ditiru kerjasama India-Rusia untuk membangun Il-214, pesawat kargo militer yang berdaya tampung 82 para atau 100 penumpang atau kapasitas 15 ton. Indonesia sangat membutuhkan jenis seperti ini, karena dapat lepas dari lingkaran setan supply militer karena ketergantungan pada pesawat kargo buatan Amerika seperti Hercules. Cara ini sangat baik dilakukan untuk memperoleh teknologi secara lebih cepat.


Pasokan Kemiliteran

Militer India dipasok oleh 39 pabrik lokal dan 8 Defence Public Sector Undertakings (DPSUs) :

  1. Hindustan Aeronautics Limited (HAL). Salah satu buatannya adalah LANCER, yaitu helikopter serang berbeaya rendah (low cost attack heli), serta akan membuat Intermediate Jet Trainer.

  2. Bharat Electronics Limited (BEL). Ia khusus membuat peralatan elektronik untuk mesin perang. Sangat bermanfaat dalam menghadapi embargo, dengan membuat unsur alternatif.

  3. Bharat Earth Movers Limited (BEML), membuat peralatan berat.

  4. Mazagon Dock Ltd (MDL), membangun kapal perang sampai 6000 DWT dan kapal sipil sampai 27.000 DWT, termasuk kapal selam, kapal rudal, fregat, corvette dan perusak. Perusak ke-dua, INS Mysore, diresmikan penggunaannya pada Juni 1999.

  5. Goa Shipyard Limited (GSL), membuat kapal modern yang lebih kecil. Buatan terakhirnya adalah Extra Fast Attack Craft (Mei 1999) dan Advance Offshore Patrol Vessel (Mei 1999).

  6. Garden Reach Ship builders and Engineers Limited (GRSE), membuat kapal perang, serta perbaikan kapal.

  7. Bharat Dynamics Limited (BDL), membuat ATGM SS11 B1 teknologi Aerospatiale Prancis, ATGM Milan teknologi Euromissile Prancis, serta ATGM Konkurs teknologi Rusia, serta amunisinya.

  8. Mishra Dhatu Nigam Limited (Midhani), membuat bahan khusus dan lakuranadi (superalloy) untuk kepentingan pertahanan, energi atom, luar angkasa, kedirgantaraan, dsb.


Ancaman dan permusuhan

  1. Pakistan
    India telah empat kali berperang melawan Pakistan. Teoritis, kekuatan militer India masih di atas Pakistan. Demikian pula dalam hal teknologi, ekonomi, industri, sosial dan politik. Kekuatan militer Pakistan utamanya dapat berkembang salah satunya karena dukungan politis dari Amerika Serikat, khususnya dalam era Perang Dingin dalam strategi peyangga menghadapi Russia di Afghanistan. Setelah berakhirnya perang dingin, Pakistan kehilangan nilai strategis bagi AS, dan dengan demikian AS memberlakukan penghentian seluruh bantuan ke Pakistan sejak Oktober 1990 (Pressler Amandement).

    Setelah perang India-Pakistan tahun 1965, Cina memberi bantuan kepada Pakistan. Hal ini disebabkan karena Cina memandang India sebagai potensi-lawan (pseoudo-enemy), karena perang Cina-India tahun 1962. Namun setelah hubungan AS-Pakistan berakhir pasca Pressler Amandement tahun 1990, barulah Cina secara besar-besaran memberi dukungan kepada Pakistan. Yang paling mengancam India adalah penjualan IRBM M-9 dan M-11 dari Cina pada 1991, serta penjualan melalui Korea Utara (Nodong I dan II). Rudal-rudal ini diganti namanya menjadi Ghauri I, Ghauri II dan Shaneen.

    Kemampuan nuklir Pakistan diperoleh dengan bantuan teknologi dari Prancis dan kemudian Cina. Kepemilikan nuklir ini diungkapkan dengan uji coba Ghauri pada April 1998 yang merupakan balasan atas percobaan rudal nuklir India.

    Kemampuan nuklir Pakistan dan Cina menjadi alasan bagi India untuk mengembangkan teknologi peluncuran dari laut sebagai proyeksi minimum detterance-nya (kemampuan serangan balasan nuklir).

    Dengan sejarah 4 kali pertempuran, potensi konflik di Kashmir, adanya dukungan Cina serta kepemilikan rudal nuklir balistik, Pakistan menjadi potensi-lawan nomor satu bagi India.

  2. Republik Rakyat Cina
    Perang perbatasan Cina-India berakhir dengan kekalahan tragis militer India. Hal ini mendorong India untuk mengembangkan militernya baik konvensional maupun non-konvensional dengan kemampuan untuk menghadapi Cina. Langkah ke arah ini dapat dilihat misalnya dengan rencana pengadaan 300 TUT T-90, yang jelas dimaksudkan untuk pertahanan menghadapi Cina.

    Sekali pun keadaan pseudo-hostile antara India dan Cina mulai mencair, serta hubungan kedua negara bertambah baik terutama sejak kunjungan Jiang Zemin November 1996, namun sangat jelas bahwa India masih menganggap Cina sebagai ancaman. Entah itu dari analisis militer atau pun hanya sebagai alasan untuk mengembangkan kekuatan militer-nya, yang jelas proyeksi militer India ditujukan untuk menyaingi kekuatan militer Cina.

    Satu hal yang paling jelas adalah pernyataan para petinggi India pasca percobaan nuklir Pokhran II tahun 1998, bahwa alasan dari pengembangan militer India adalah untuk menghadapi ancaman Cina. Tak kurang PM Atal Behari Vajpayee dan Menteri Pertahanannya, George Fernandes memberikan pernyataan tersebut, yang kemudian disikapi dengan kemarahan besar dari para pejabat Cina. Sekali pun kemudian pernyataan tersebut dibantah oleh India.

    Membaiknya hubungan Cina-India kemungkinan tidak lepas dari upaya Cina untuk menjamin keamanannya di Barat Laut, menjelang Invasi ke Taiwan. Bukan rahasia lagi bahwa Cina tengah mempersiapkan Invasi ke Taiwan dan mungkin juga ke Kepulauan Cina Selatan yang merupakan bagian dari 'urusan dalam negeri' Cina. Dan keberadaan India yang bermusuhan sangat menghalangi hal ini. Cina harus menjamin persahabatan dengan India sebelum dapat membereskan 'urusan dalam negerinya'.

  3. Fundamentalisme
    Berbagai fundamentalisme mengancam India. Yang terbesar di antaranya adalah fundamentalisme Islam, Tamil dan Hindu. Ancaman fundamentalisme diwujudkan dalam bentuk kekacauan, terorisme, serta separatisme.

    Fundamentalisme Hindu berdampak pada kekacauan politik India yang demokratis. Juga membawa konflik dengan agama-agama lain. Kerusuhan sering terjadi saat fundamentalis yang satu berhadapan dengan yang lain.

    Fundamentalisme Tamil, berdampak besar setelah serangan ditujukan pada para pejabat India. Serangan bom bunuh diri yang menewaskan PM India merupakan puncak dari terorisme fundamentalis Tamil.

    Fundamentalisme Islam, datang dalam bentuk ancaman separatisme dari dua wilayah kantong Islam di Utara dan Selatan India. Dukungan dari Pakistan sangat mempengaruhi gerakan fundamentalisme di India sejak lama. Pada akhir Perang Afghanistan, India menghadapi sumber fundamentalisme baru dari Kandahar, Afghanistan, di mana Revolusi Islam Taliban yang Suni Wahabi malah terbukti lebih parah daripada Revolusi Islam Iran yang Shiah. Mulai dari pembantaian kaum Shiah di provinsi Herat dan Bamiyan, di perbatasan dengan Iran, hingga kebijakan anti-wanita, yang membuat malu Pakistan, sebagai sponsor utama Taliban.


Hubungan Luar Negeri

  1. Rusia
    India adalah bagian dari politik luar negeri Soviet di Asia. Itu waktu Sovyet masih ada. Kebijakan politik India yang non-alignment (non-blok) memberi Soviet pijakan di Asia Selatan. Soviet menjadi pemasok terbesar bagi militer India, menjamin adanya pasokan kemiliteran yang bebas dari persyaratan berat dan resiko embargo.

    Setelah Soviet bubar, Rusia tetap menjadi pemasok senjata nomor satu bagi militer India. Dalam beberapa kerjasama yang dilakukan Rusia memberikan teknologi kepada India, walau pun hanya teknologi lapis ke-dua. Sebagaimana Soviet, Rusia tetap memperhitungkan bahwa teknologi yang dipindahkan ke India dapat berpindah tangan ke AS, melalui Inggris atau Perancis juga ke Cina. Persahabatan India dan Rusia diperkuat oleh faktor Cina, dimana keduanya pernah mengalami konflik perbatasan dengan Cina. Demikian pula dengan faktor separatisme khususnya yang berkaitan dengan fundamentalisme Islam. Rusia berhadapan dengan masalah yang lebih berat di Dagestan dan Cechnya yang memperoleh pasokan bahan dan milisi dari Afghanistan. Sebaliknya, India sangat membutuhkan Rusia untuk veto di PBB dalam masalah Kashmir dan kepemilikan senjata nuklir. Kemampuan India dalam mencapai minimum detterence-nya baru dapat dicapai dalam 25 sampai 50 tahun sebelum India dapat menandatangani NPT dan CTBT (perjanjian yang membatasi percobaan, kepemilikan dan penyebaran senjata nuklir) dan ini tidak mungkin dilakukan tanpa dukungan Rusia, baik dalam hal teknologi maupun perlindungan veto di PBB.

  2. Amerika Serikat
    Amerika Serikat menerapkan embargo militer pada India sejak lama karena upayanya untuk memiliki senjata nuklir. Embargo militer tersebut masih berlaku hingga sekarang setidaknya untuk peralatan militer yang sensitif, karena India menolak menandatangani NPT dan CTBT.

    Kedekatan India dengan Soviet (kemudian Rusia) otomatis membuat India kurang disukai oleh AS. Namun dikarenakan letak geografisnya, pendiriannya yang non-blok, serta keberadaannya sebagai negara demokrasi, para analis militer AS menyimpulkan bahwa konflik dengan India sangat kecil kemungkinannya.

  3. Eropa
    Prancis termasuk pemasok senjata bagi India. Teknologi nuklir India pada awalnya berasal dari Prancis. Sikap Prancis yang non-alignment membuatnya tidak terlalu dipengaruhi oleh AS. Namun setelah India menolak menandatangani NPT, tekanan dunia mengharuskan Prancis untuk turut membatasi teknologi yang dipasok ke India.

  4. Inggris
    Inggris merupakan bapak India. Sebagai negara commonwealth, India secara tradisi mendapat perlindungan dari Inggris. Hanya saja saat ini, pamor Kerajaan Inggris sudah hilang dari dunia, bahkan mendapat julukan Putra Mahkota yang Memalukan, The Prince of Charm, to be King of Buckingham, Defender of adultery (plesetan dari Prince of Wales, to be King of England, Defender of Faith), sedang sumber daya yang dimilikinya jauh dari mencukupi untuk dapat menjadi adidaya di zaman moderen ini.

  5. Asia
    Asean adalah tempat bagi bagi bangsa-bangsa yang cinta damai. Asean membawa dampak positif bagi seluruh bangsa di dunia kecuali bagi Indonesia. Terimakasih pada para pejabat di Jakarta yang lebih senang memberi makan Singapura daripada mengurusi kemajuan Irian. ARF (ASEAN Regional Forum) sangat bermanfaat bagi India untuk melakukan komunikasi akrab yang terbuka dengan negara-negara lain. Hanya saja dalam forum regional yang cukup luas seperti itu India sering menjadi bulan-bulanan karena sikapnya yang tidak mau menandatangani NPT dan CTBT. Pelajaran dari Asean digunakan oleh India untuk membentuk kumpulan regionalnya sendiri, Bimstec, yang terdiri atas Bangladesh, India, Myanmar, Sri Lanka dan Thailand.

  6. Israel
    Israel, negeri kecil dengan kekuatan besar ini, adalah kunci dalam pengembangan militer negara-negara berkembang. India menyadari hal ini sejak 1992. Sebelumnya, sama seperti Indonesia, desakan fanatik dalam negeri, serta kebijakan politik untuk mengambil hati kaum fanatik menghalangi dibukanya hubungan diplomatik dengan Israel. Kunjungan Presiden Israel Ezer Weizman tahun 1996 mewakili akhir dari kebijakan tak-berdasar tersebut. Dari hubungan ini India memperoleh keuntungan yang sangat besar, terutama karena Israel tidak terlalu pelit dalam pengalihan teknologi. Israel bahkan tidak mempermasalahkan kedekatan hubungan politik India dengan Iran, atau negara-negara Arab yang masih ingin membuang Israel kelaut. Dari Israel, India memperoleh amunisi, radar, FAC, electronic warfare system, UAV, serta upgrade berbagai peralatan militer. Israel terkenal dalam pemanfaatan mesin-mesin militer lama dan mengubahnya menjadi peralatan moderen, serta membuat sendiri suku cadang untuk menghindari embargo, baik peralatan Rusia maupun AS dan Eropa. Dengan naiknya beaya produksi di Rusia akibat gejolak internal, Israel saat ini merupakan pemasok senjata nomor dua untuk India.


Ambisi India

India berambisi menjadi adidaya Asia. Ambisi ini telah diperlihatkan sejak awal berdirinya negara tersebut. Awalnya militer India mewujudkan hal tersebut dengan mengoperasikan Carrier. Kemudian proyeksi militer India secara jelas menuju perwujudan blue water navy yang modern. Langkah kearah ini dilakukan dengan kemampuan membangun di dalam negeri kapal perusak dan fregat yang modern, serta mengalihkan teknologi untuk membangun kapal selam. Sewa kapal selam nuklir dari Rusia sejak beberapa tahun yang lalu memberikan AL India kemampuan untuk mengoperasikan kapal selam nuklir, sedang anggaran militernya yang begitu besar memungkinkannya membeli kapal selam nuklir sewaktu-waktu.

Sejalan dengan itu, India berharap dapat menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan dengan demikian dapat memiliki hak veto. Untuk mendukung harapannya tersebut India mempersiapkan diri dalam bidang ekonomi, politik, teknologi dan militer. Dalam keempat bidang tersebut India telah menunjukkan kemajuan yang cukup pesat.

Untuk dapat diakui dunia, India bukan hanya mengejar kepemilikan atas blue water navy, tetapi juga kepemilikan atas senjata nuklir. Uji coba nuklir Cina 1964, dua tahun setelah perang perbatasan India-Cina, menjadi alasan kuat bagi India untuk mengejar teknologi senjata nuklir dan melakukan uji coba serupa pada 1974. Penelitian atas senjata termonuklir dimulai sejak 1980.

Ambisi India terlihat setelah negara tersebut menolak meratifikasi perjanjian NPT (Non-Poliferation Treaty) tahun 1968 hingga sekarang. Bahkan kemudian menolak menandatangani CTBT tahun 1996, hingga sekarang, jauh setelah perang dingin berakhir.

Pada Mei 1998, India kembali melakukan uji coba nuklir, berlawanan dengan trend pemusnahan nuklir pasca perang dingin. Hal ini segera diikuti oleh Pakistan dengan uji coba nuklir yang lebih bersifat balasan atas uji coba India. Maka dimulailah perlombaan senjata nuklir baru secara terbuka.

India saat ini diperkirakan memiliki 60 senjata nuklir yang dapat diluncurkan dengan rudal Agni atau Phritvi, atau melalui pesawat. Target India selanjutnya adalah memiliki kemampuan peluncuran rudal nuklir dari laut, baik permukaan mau pun dari kapal selam. Ini adalah target minimum detterence India saat ini. Enam reaktor nuklir air berat India memiliki plutonium yang cukup untuk mempersenjatai 200 nuklir.

India tidak memiliki harapan untuk menjadi pemimpin regional, mengingat posisi politisnya di kawasan Asia Selatan yang dikelilingi oleh negara-negara besar yang pseudo-hostile, seperti Pakistan, Cina dan Afghanistan. Kecuali tentunya di wilayah Bay of Bengal yang tergabung dalam Bimstec. Disini pun India harus berhadapan dengan Thailand.

Peran India di Maldives menunjukkan keinginan dan kemampuan AL India untuk beroperasi jauh dari Home Sea. Ambisi India ini akan secara langsung berhadapan dengan ambisi serupa dari Cina dan Australia, dalam perlombaan menjadi Penguasa Samudra Asia Selatan. Siapa yang akan menjadi Penguasa Laut Selatan ?


Kebutuhan India dari Indonesia

India membutuhkan jaminan atas jalur laut yang aman melalui nusantara, sekali pun India berada dalam konflik, baik dengan Cina, Pakistan atau Australia. Jelasnya India membutuhkan jaminan persahabatan dari Indonesia, bahwa tidak akan ada konflik militer antar kedua negara.

India memiliki kebutuhan tenaga alam, khususnya LNG dan LPG yang dapat diperoleh dari Indonesia. Mereka juga membutuhkan Indonesia sebagai negara mayoritas muslim yang bersahabat yang memiliki permasalahan serupa, yaitu masalah kemajemukan, separatisme, dan potensi kekacauan SARA lainnya. India khususnya membutuhkan kedekatan dengan Indonesia untuk meredam fundamentalisme Sunni Wahabi dari Afghanistan dan Pakistan di daerah-daerah muslim di Utara dan Selatan. Peran Indonesia dalam penyelesaian masalah serupa di Filipina Selatan akan sangat dibutuhkan oleh India, apalagi mengingat karakteristik Sunni di Indonesia yang tergolong moderat. India sendiri memiliki hubungan yang baik dengan kaum Shiah Iran.

India berkepentingan mendapatkan bantuan politis untuk meredam atau setidaknya mengurangi tekanan internasional atas posisinya yang tidak menandatangani NPT dan CTBT.

Selain itu India juga membutuhkan Indonesia sebagai pemberi jalan untuk menyaingi peran politis Australia dan Cina khususnya di Asia Tenggara. India membutuhkan Indonesia yang memihak pada India atau setidaknya tetap netral dibanding terhadap Australia dan Cina, serta AS. Untuk mempertahankan perkembangan militernya India membutuhkan persahabatan militer yang lebih luas, termasuk dengan Indonesia.

Dan tidak kalah pentingnya menjelang era pasar bebas, India membutuhkan pintu masuk ke pasar Asean.

Daftar teknis yang lebih lengkap tentang hal ini harus diperoleh melalui sigi dan dialog bilateral.


Kebutuhan Indonesia dari India

Indonesia sangat membutuhkan teknologi, baik militer mau pun untuk industri sipil. Ada banyak teknologi militer dapat diperoleh dari India. Khususnya teknologi yang tidak dapat diperoleh langsung dari Rusia karena perbaikan hubungan yang lambat, serta teknologi dari Israel yang terhambat oleh segelintir orang fanatik yang tidak perduli dengan kemajuan bangsa. India diharapkan dapat lebih berbaik hati daripada Rusia.

Indonesia harus melepaskan diri dari ketergantungan militer pada negara-negara yang terlalu banyak memberi persyaratan. Khusus pada saat ini, Indonesia membutuhkan TNI AU yang dapat kembali terbang, serta TNI AL dan TNI AD untuk dapat memfungsikan kembali peralatan militernya.

Indonesia membutuhkan jaringan intelijen internasional yang kuat untuk menghadapi terorisme internasional yang berhubungan dengan para teroris di dalam negeri. Dugaan adanya ekspor pejuang dari Afghanistan membutuhkan penanganan counter-intelligence yang baik. Bantuan dari India yang menghadapi masalah serupa akan sangat membantu.

Kerjasama militer yang perlu dilakukan adalah:

  1. Produksi bersama
    Melakukan produksi peralatan militer dan amunisi dengan perjanjian untuk saling memberi pasokan bila dibutuhkan.

  2. Evaluasi pengadaan bersama
    Melakukan evaluasi bersama untuk pembelian peralatan tempur, dengan demikian dapat melakukan penawaran yang lebih baik, serta follow-up seperti pembelian bersama, pembangunan suku cadang dengan saling silang, dsb.

  3. Pembelian bersama
    Bersama-sama membeli peralatan perang, dengan jumlah yang besar dapat diharapkan harga lebih rendah, bahkan transfer teknologi.

  4. Riset bersama
    Memadukan riset peralatan tertentu. Akan lebih banyak merupakan pemindahan teknologi ke Indonesia.

  5. Produksi multilateral
    Produksi bersama peralatan perang, misalnya antara Russia, India dan Indonesia.

  6. Pengalihan teknologi
    Penerapan cara ini antara lain adalah pada pembangkitan listrik tenaga nuklir, yaitu jika India dapat memberikan teknologi dengan harga paling rendah. Daftar teknis yang lebih lengkap tentang hal ini harus diperoleh dengan penyigian.


Kondisi keterbatasan hubungan

  1. Indonesia berkewajiban untuk meminta India agar menandatangani NPT dan CTBT. Tetapi bukan berarti Indonesia wajib turut menyudutkan India dalam forum internasional. Konsesi yang cukup berarti bagi India jika Indonesia turut membantu melembutkan desakan pada India, sebab bagaimana pun India adalah negara berdaulat.

  2. Hubungan baik dengan India harus dalam konteks menghormati negara lain. Dalam arti hubungan tersebut tidak boleh dimaksudkan untuk memusuhi atau menghadapi negara lain. Dalam hal ini pendekatan harus dilakukan pada Cina, Pakistan, Rusia dan Amerika Serikat untuk menjelaskan setiap hubungan dengan India. Kita tidak mau dan tidak mampu untuk terjebak dalam perang nuklir. Untuk itu hubungan tidak boleh dalam bentuk aliansi pertahanan, melainkan persahabatan sederajat.

  3. Kedekatan (poros) multilateral yang mungkin terbentuk adalah Indonesia - Rusia - India. Seorang amatiran petinggi RI pernah menyebutkan Indonesia - Cina - India. Suatu hal yang konyol. Kedekatan tersebut harus diimbangi dengan kedekatan Indonesia-Cina.

  4. Ketergantungan dengan AS diprioritaskan untuk diakhiri, dengan kedekatan India dan RI, tetapi dengan tidak menciptakan ketergantungan baru. Prioritas kita adalah alih teknologi, bukan pembelian peralatan. Pembelian peralatan hanya boleh dilakukan dalam konteks alih teknologi, sedang untuk penguasaan SDM harus dilakukan leasing.


Hambatan dalam implementasi

Seandainya masalah kita hanya masalah ketertinggalan teknologi dan masalah ekonomi, semuanya bisa lebih sederhana. Yang rumit adalah penghambat utama terletak pada para birokrat di pemerintahan serta para petinggi TNI dan Dephan. Kita tidak dapat melakukan apa-apa sebelum tubuh birokrasi kita dibersihkan. Harus muncul jenderal-jenderal dan para pejabat yang benar-benar nasionalis serta berpihak pada rakyat.

Kerjasama internasional yang dimaksudkan untuk kemajuan negara bukan hanya membutuhkan perencanaan dan pengambilan keputusan yang matang, terpadu dan terarah, tetapi juga profesionalisme yang tinggi. Salah satu kata dapat merusak seluruh rencana. Sekali pun kita memiliki diplomat ulung, kalau pejabatnya asal bicara, malah bisa membawa negara dalam keadaan bahaya.


Kirim saran untuk Pemelihara Ksatrian

| Tulisan | Sistem Senjata | Kajian | Arsip|
| Polri | Resimen Mahasiswa | TNI|
| Halaman Utama |