This article does not reflect the opinion or view of the Goverment of the Republic of Indonesia,
TNI, nor any non govermental organization. Writer of this article never have any relation to any
political party, political movement nor any govermental organization. The writer has never been
to India and has no personal interest in relationship betwen India and Indonesia. This article
was specialy made for the Ksatrian. Data gathered from the internet and books without prior
permission by the writer, therefor, you can quote this article without my permission too. :-)
Artikel ini berbicara mengenai prospek hubungan Indonesia dengan India. Sehubungan dengan makin
baiknya hubungan antara kedua negara, serta munculnya kepentingan-kepentingan yang dapat saling
menguntungkan antar kedua negara.
Perekonomian India diperkuat oleh kehadiran industri dengan dasar teknologi yang cukup kuat.
Program alih teknologi India termasuk cukup berhasil. Dalam industri TI yang merupakan arus
dunia saat ini, India hadir sebagai pemain kelas atas. Demikian pula dalam bidang teknologi yang
lain, para teknokrat India memiliki penguasaan yang cukup tinggi hingga mampu berbicara dalam
dunia teknologi internasional. Kekuatan ini menjadi dasar kuat bagi perekonomian India.
Perekonomian yang tidak akan begitu mudah digoyang seperti Indonesia yang mendasarkan pada
perekonomian calo.
Dalam topik kerukunan beragama, sistem hukum dan kenegaraan India sangat maju dalam mendukung
sistem negara yang sekuler. Dapat dikatakan bahwa India paling maju dalam hal ini, bahkan
dibandingkan dengan Amerika Serikat, apalagi Indonesia. Tercatat satu orang Sikh dan dua orang
Muslim pernah menjabat sebagai Presiden. Tidak ada batasan agama dalam rekrutmen militer maupun
jabatan pemerintahan. Termasuk sebagai kepala staf atau pejabat intelijen.
Satu yang perlu di catat adalah pengakuan atas daerah minoritas. Di daerah Islam di Utara
(Kashmir) dan daerah Kristen di Timur Laut berlaku larangan membeli tanah bagi orang luar daerah.
Hal ini diizinkan untuk mempertahankan kepemilikan penduduk setempat, agar daerah minoritas
dapat tetap bertahan.
Sekali pun demikian, ketidakmerataan ekonomi dan pendidikan serta keberadaan kelompok-kelompok
fundamentalis dan suku-suku primitif menjadi penyebab sering timbulnya gejolak sosial dan tindak
kriminal yang bertendensi SARA.
Dengan anggaran sebesar US$ 13,6 miliar hanya untuk 2000/2001 ini, hanya US$ 1 miliar di bawah
RRC -ini menurut pengakuan India, sementara RRC mengaku anggaran militernya jauh di bawah India-
India menunjukkan kemampuannya untuk menjadi salah satu militer yang terkuat di Asia. Pengadaan
dilakukan dengan mekanisme yang cukup kompleks dan profesional, sekali pun sebagai akibat dari
masih besarnya ketergantungan teknologi, beberapa kasus sempat muncul. Berikut beberapa
pengadaan yang patut dicatat:
Mirip seperti di Indonesia, tapi dalam taraf yang jauh lebih rendah, korupsi juga merupakan
momok yang menghantui militer India dalam pengadaan persenjataan, di samping tentu saja
kesalahan pengambilan keputusan. Namun berbeda dengan Indonesia, upaya melakukan pengamanan atas
kebocoran telah dilakukan dengan meningkatkan audit sejak 1985. Contoh isu yang beredar, bahwa
implementasi MiG-29K untuk Gorshkov adalah dipaksakan. SU-30 yang dikirim disebut
hanyalah SU-27 yang diupgrade. Demikian pula versi T-90 yang akan diterima
India, disebutkan sebagai model eksperimental yang pada prinsipnya hanyalah T-80 yang
dilengkapi dengan mesin disel baru.
Pengadaan TU-22M Backfire untuk maritime aircraft cukup penting, mengingat
kategorinya sebagai pembom jarak jauh, yang sanggup menyerang sebelum dikenali oleh radar.
Ditambah dengan TU-142M (ASW). Selain itu, empat kapal selam Kelas Kilo akan
menambah armada kapal selam India.
Yang juga perlu dicatat adalah bahwa India menyewa beberapa peralatan militer dari Rusia.
Termasuk di antaranya adalah kapal selam nuklir seperti INS Chakra. Metode sewa ini
seharusnya juga dipertimbangkan Indonesia, daripada membeli peralatan dalam jumlah tidak memadai
dan tidak memiliki fungsi militer.
Israel turut membantu dalam melakukan modernisasi kapal-kapal tempur India, khususnya dalam
teknologi radar dan perlengkapan electronic warfare lainnya.
Pembelian 10 Mirage 2000 menunjukkan bahwa India tidak meninggalkan teknologi Prancis.
Namun karena penolakan India atas NPT kemungkinan Prancis tidak akan memberikan teknologi Mirage
yang terakhir.
India juga telah melakukan upgrade lokal atas 125 MiG-21 yang dimilikinya.
Mempertahankan wing lama tempur ini sangat dibutuhkan untuk menandingi superioritas jumlah jet
tempur RRC. Sedang dirundingkan kemungkinan pembelian Beriev A-50 (Mainstay), pesawat
AWACS Rusia. Perlu menjadi pertimbangan Indonesia untuk turut membeli Beriev dibandingkan
state of art AWACS AS, khususnya karena pertimbangan ketersediaan pasokan serta minimnya
kemungkinan berhadapan dengan Rusia (zero enggagement possibility) dalam 50 tahun ke depan.
Selain itu, 40 helikopter Mi-17-1B versi upgrade juga sedang dinantikan pengirimannya.
Heli ini dapat beroperasi pada high altitude, sesuai dengan geografi India di perbatasan
dengan Cina dan Pakistan. Pilihan ini perlu menjadi pertimbangan untuk operasi TNI di Irian.
Juga perlu ditiru kerjasama India-Rusia untuk membangun Il-214, pesawat kargo militer
yang berdaya tampung 82 para atau 100 penumpang atau kapasitas 15 ton. Indonesia sangat
membutuhkan jenis seperti ini, karena dapat lepas dari lingkaran setan supply militer
karena ketergantungan pada pesawat kargo buatan Amerika seperti Hercules. Cara ini sangat baik
dilakukan untuk memperoleh teknologi secara lebih cepat.
Militer India dipasok oleh 39 pabrik lokal dan 8 Defence Public Sector Undertakings
(DPSUs) :
Setelah perang India-Pakistan tahun 1965, Cina memberi bantuan kepada Pakistan. Hal ini
disebabkan karena Cina memandang India sebagai potensi-lawan (pseoudo-enemy), karena
perang Cina-India tahun 1962. Namun setelah hubungan AS-Pakistan berakhir pasca Pressler
Amandement tahun 1990, barulah Cina secara besar-besaran memberi dukungan kepada Pakistan.
Yang paling mengancam India adalah penjualan IRBM M-9 dan M-11 dari Cina pada
1991, serta penjualan melalui Korea Utara (Nodong I dan II). Rudal-rudal ini diganti
namanya menjadi Ghauri I, Ghauri II dan Shaneen.
Kemampuan nuklir Pakistan diperoleh dengan bantuan teknologi dari Prancis dan kemudian Cina.
Kepemilikan nuklir ini diungkapkan dengan uji coba Ghauri pada April 1998 yang merupakan
balasan atas percobaan rudal nuklir India.
Kemampuan nuklir Pakistan dan Cina menjadi alasan bagi India untuk mengembangkan teknologi
peluncuran dari laut sebagai proyeksi minimum detterance-nya (kemampuan serangan balasan
nuklir).
Dengan sejarah 4 kali pertempuran, potensi konflik di Kashmir, adanya dukungan Cina serta
kepemilikan rudal nuklir balistik, Pakistan menjadi potensi-lawan nomor satu bagi India.
Sekali pun keadaan pseudo-hostile antara India dan Cina mulai mencair, serta hubungan
kedua negara bertambah baik terutama sejak kunjungan Jiang Zemin November 1996, namun sangat
jelas bahwa India masih menganggap Cina sebagai ancaman. Entah itu dari analisis militer atau pun
hanya sebagai alasan untuk mengembangkan kekuatan militer-nya, yang jelas proyeksi militer India
ditujukan untuk menyaingi kekuatan militer Cina.
Satu hal yang paling jelas adalah pernyataan para petinggi India pasca percobaan nuklir
Pokhran II tahun 1998, bahwa alasan dari pengembangan militer India adalah untuk
menghadapi ancaman Cina. Tak kurang PM Atal Behari Vajpayee dan Menteri Pertahanannya, George
Fernandes memberikan pernyataan tersebut, yang kemudian disikapi dengan kemarahan besar dari
para pejabat Cina. Sekali pun kemudian pernyataan tersebut dibantah oleh India.
Membaiknya hubungan Cina-India kemungkinan tidak lepas dari upaya Cina untuk menjamin
keamanannya di Barat Laut, menjelang Invasi ke Taiwan. Bukan rahasia lagi bahwa Cina tengah
mempersiapkan Invasi ke Taiwan dan mungkin juga ke Kepulauan Cina Selatan yang merupakan bagian
dari 'urusan dalam negeri' Cina. Dan keberadaan India yang bermusuhan sangat menghalangi
hal ini. Cina harus menjamin persahabatan dengan India sebelum dapat membereskan 'urusan
dalam negerinya'.
Fundamentalisme Hindu berdampak pada kekacauan politik India yang demokratis. Juga membawa
konflik dengan agama-agama lain. Kerusuhan sering terjadi saat fundamentalis yang satu
berhadapan dengan yang lain.
Fundamentalisme Tamil, berdampak besar setelah serangan ditujukan pada para pejabat India.
Serangan bom bunuh diri yang menewaskan PM India merupakan puncak dari terorisme fundamentalis
Tamil.
Fundamentalisme Islam, datang dalam bentuk ancaman separatisme dari dua wilayah kantong Islam di
Utara dan Selatan India. Dukungan dari Pakistan sangat mempengaruhi gerakan fundamentalisme di
India sejak lama. Pada akhir Perang Afghanistan, India menghadapi sumber fundamentalisme baru
dari Kandahar, Afghanistan, di mana Revolusi Islam Taliban yang Suni Wahabi malah terbukti lebih
parah daripada Revolusi Islam Iran yang Shiah. Mulai dari pembantaian kaum Shiah di provinsi
Herat dan Bamiyan, di perbatasan dengan Iran, hingga kebijakan anti-wanita, yang membuat malu
Pakistan, sebagai sponsor utama Taliban.
Setelah Soviet bubar, Rusia tetap menjadi pemasok senjata nomor satu bagi militer India. Dalam
beberapa kerjasama yang dilakukan Rusia memberikan teknologi kepada India, walau pun hanya
teknologi lapis ke-dua. Sebagaimana Soviet, Rusia tetap memperhitungkan bahwa teknologi yang
dipindahkan ke India dapat berpindah tangan ke AS, melalui Inggris atau Perancis juga ke Cina.
Persahabatan India dan Rusia diperkuat oleh faktor Cina, dimana keduanya pernah mengalami konflik
perbatasan dengan Cina. Demikian pula dengan faktor separatisme khususnya yang berkaitan dengan
fundamentalisme Islam. Rusia berhadapan dengan masalah yang lebih berat di Dagestan dan Cechnya
yang memperoleh pasokan bahan dan milisi dari Afghanistan. Sebaliknya, India sangat membutuhkan
Rusia untuk veto di PBB dalam masalah Kashmir dan kepemilikan senjata nuklir. Kemampuan India
dalam mencapai minimum detterence-nya baru dapat dicapai dalam 25 sampai 50 tahun sebelum
India dapat menandatangani NPT dan CTBT (perjanjian yang membatasi percobaan, kepemilikan dan
penyebaran senjata nuklir) dan ini tidak mungkin dilakukan tanpa dukungan Rusia, baik dalam hal
teknologi maupun perlindungan veto di PBB.
Kedekatan India dengan Soviet (kemudian Rusia) otomatis membuat India kurang disukai oleh AS.
Namun dikarenakan letak geografisnya, pendiriannya yang non-blok, serta keberadaannya sebagai
negara demokrasi, para analis militer AS menyimpulkan bahwa konflik dengan India sangat kecil
kemungkinannya.
India berambisi menjadi adidaya Asia. Ambisi ini telah diperlihatkan sejak awal berdirinya
negara tersebut. Awalnya militer India mewujudkan hal tersebut dengan mengoperasikan
Carrier. Kemudian proyeksi militer India secara jelas menuju perwujudan blue water
navy yang modern. Langkah kearah ini dilakukan dengan kemampuan membangun di dalam negeri
kapal perusak dan fregat yang modern, serta mengalihkan teknologi untuk membangun kapal selam.
Sewa kapal selam nuklir dari Rusia sejak beberapa tahun yang lalu memberikan AL India kemampuan
untuk mengoperasikan kapal selam nuklir, sedang anggaran militernya yang begitu besar
memungkinkannya membeli kapal selam nuklir sewaktu-waktu.
Sejalan dengan itu, India berharap dapat menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan dengan
demikian dapat memiliki hak veto. Untuk mendukung harapannya tersebut India mempersiapkan diri
dalam bidang ekonomi, politik, teknologi dan militer. Dalam keempat bidang tersebut India telah
menunjukkan kemajuan yang cukup pesat.
Untuk dapat diakui dunia, India bukan hanya mengejar kepemilikan atas blue water navy,
tetapi juga kepemilikan atas senjata nuklir. Uji coba nuklir Cina 1964, dua tahun setelah perang
perbatasan India-Cina, menjadi alasan kuat bagi India untuk mengejar teknologi senjata nuklir
dan melakukan uji coba serupa pada 1974. Penelitian atas senjata termonuklir dimulai sejak 1980.
Ambisi India terlihat setelah negara tersebut menolak meratifikasi perjanjian NPT
(Non-Poliferation Treaty) tahun 1968 hingga sekarang. Bahkan kemudian menolak
menandatangani CTBT tahun 1996, hingga sekarang, jauh setelah perang dingin berakhir.
Pada Mei 1998, India kembali melakukan uji coba nuklir, berlawanan dengan trend
pemusnahan nuklir pasca perang dingin. Hal ini segera diikuti oleh Pakistan dengan uji coba
nuklir yang lebih bersifat balasan atas uji coba India. Maka dimulailah perlombaan senjata
nuklir baru secara terbuka.
India saat ini diperkirakan memiliki 60 senjata nuklir yang dapat diluncurkan dengan rudal
Agni atau Phritvi, atau melalui pesawat. Target India selanjutnya adalah memiliki
kemampuan peluncuran rudal nuklir dari laut, baik permukaan mau pun dari kapal selam. Ini adalah
target minimum detterence India saat ini. Enam reaktor nuklir air berat India memiliki
plutonium yang cukup untuk mempersenjatai 200 nuklir.
India tidak memiliki harapan untuk menjadi pemimpin regional, mengingat posisi politisnya di
kawasan Asia Selatan yang dikelilingi oleh negara-negara besar yang pseudo-hostile,
seperti Pakistan, Cina dan Afghanistan. Kecuali tentunya di wilayah Bay of Bengal yang
tergabung dalam Bimstec. Disini pun India harus berhadapan dengan Thailand.
Peran India di Maldives menunjukkan keinginan dan kemampuan AL India untuk beroperasi jauh dari
Home Sea. Ambisi India ini akan secara langsung berhadapan dengan ambisi serupa dari Cina
dan Australia, dalam perlombaan menjadi Penguasa Samudra Asia Selatan. Siapa yang akan menjadi
Penguasa Laut Selatan ?
India membutuhkan jaminan atas jalur laut yang aman melalui nusantara, sekali pun India berada
dalam konflik, baik dengan Cina, Pakistan atau Australia. Jelasnya India membutuhkan jaminan
persahabatan dari Indonesia, bahwa tidak akan ada konflik militer antar kedua negara.
India memiliki kebutuhan tenaga alam, khususnya LNG dan LPG yang dapat diperoleh dari Indonesia.
Mereka juga membutuhkan Indonesia sebagai negara mayoritas muslim yang bersahabat yang memiliki
permasalahan serupa, yaitu masalah kemajemukan, separatisme, dan potensi kekacauan SARA lainnya.
India khususnya membutuhkan kedekatan dengan Indonesia untuk meredam fundamentalisme Sunni
Wahabi dari Afghanistan dan Pakistan di daerah-daerah muslim di Utara dan Selatan. Peran
Indonesia dalam penyelesaian masalah serupa di Filipina Selatan akan sangat dibutuhkan oleh
India, apalagi mengingat karakteristik Sunni di Indonesia yang tergolong moderat. India sendiri
memiliki hubungan yang baik dengan kaum Shiah Iran.
India berkepentingan mendapatkan bantuan politis untuk meredam atau setidaknya mengurangi
tekanan internasional atas posisinya yang tidak menandatangani NPT dan CTBT.
Selain itu India juga membutuhkan Indonesia sebagai pemberi jalan untuk menyaingi peran politis
Australia dan Cina khususnya di Asia Tenggara. India membutuhkan Indonesia yang memihak pada
India atau setidaknya tetap netral dibanding terhadap Australia dan Cina, serta AS. Untuk
mempertahankan perkembangan militernya India membutuhkan persahabatan militer yang lebih luas,
termasuk dengan Indonesia.
Dan tidak kalah pentingnya menjelang era pasar bebas, India membutuhkan pintu masuk ke pasar
Asean.
Daftar teknis yang lebih lengkap tentang hal ini harus diperoleh melalui sigi dan dialog
bilateral.
Indonesia sangat membutuhkan teknologi, baik militer mau pun untuk industri sipil. Ada banyak
teknologi militer dapat diperoleh dari India. Khususnya teknologi yang tidak dapat diperoleh
langsung dari Rusia karena perbaikan hubungan yang lambat, serta teknologi dari Israel yang
terhambat oleh segelintir orang fanatik yang tidak perduli dengan kemajuan bangsa. India
diharapkan dapat lebih berbaik hati daripada Rusia.
Indonesia harus melepaskan diri dari ketergantungan militer pada negara-negara yang terlalu
banyak memberi persyaratan. Khusus pada saat ini, Indonesia membutuhkan TNI AU yang dapat kembali
terbang, serta TNI AL dan TNI AD untuk dapat memfungsikan kembali peralatan militernya.
Indonesia membutuhkan jaringan intelijen internasional yang kuat untuk menghadapi terorisme
internasional yang berhubungan dengan para teroris di dalam negeri. Dugaan adanya ekspor pejuang
dari Afghanistan membutuhkan penanganan counter-intelligence yang baik. Bantuan dari India
yang menghadapi masalah serupa akan sangat membantu.
Kerjasama militer yang perlu dilakukan adalah:
Seandainya masalah kita hanya masalah ketertinggalan teknologi dan masalah ekonomi, semuanya
bisa lebih sederhana. Yang rumit adalah penghambat utama terletak pada para birokrat di
pemerintahan serta para petinggi TNI dan Dephan. Kita tidak dapat melakukan apa-apa sebelum
tubuh birokrasi kita dibersihkan. Harus muncul jenderal-jenderal dan para pejabat yang
benar-benar nasionalis serta berpihak pada rakyat.
Kerjasama internasional yang dimaksudkan untuk kemajuan negara bukan hanya membutuhkan
perencanaan dan pengambilan keputusan yang matang, terpadu dan terarah, tetapi juga
profesionalisme yang tinggi. Salah satu kata dapat merusak seluruh rencana. Sekali pun kita
memiliki diplomat ulung, kalau pejabatnya asal bicara, malah bisa membawa negara dalam keadaan
bahaya.
India dan RI : Prospek Kerjasama Militer
Oleh : Alan
Sekilas India
India memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Sekali pun belum digarap secara maksimal,
namun perekonomian India sangat jauh lebih baik daripada Indonesia. Sekali pun demikian,
reformasi dan restrukturisasi ekonomi serta privatisasi masih menghadapi berbagai kendala.
Seandainya India menjalankan reformasi ekonominya dengan baik, maka sangat mungkin negara ini
termasuk dalam salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia.
India merdeka 1947. Indonesia merdeka 1945. Lalu mengapa Indonesia tertinggal jauh dari India ?
Alasannya sangat jelas. India secara mangkus merdeka tahun 1947, sedang Indonesia baru merdeka
tahun 1999 setelah puluhan tahun dijajah oleh bangsa sendiri. India sejak awal menerapkan
demokrasi dalam kehidupan politiknya. Dampaknya memang tidak sederhana. Berbagai kemelut dan
kekacauan terjadi dalam pembentukan karakter demokrasinya. Bahkan hingga hari ini, demokrasi
India masih dalam proses pembentukan. Tetapi dibandingkan dengan Indonesia tentu demokrasi India
yang 50 tahun mendahului kini jauh lebih nyata bentuknya.
Struktur sosial India mengakibatkan kesulitan tersendiri bagi perkembangan negara tersebut.
Masih berlakunya pembedaan kasta, serta berbagai praktik tradisional tidak memungkinkan adanya
pemerataan sosial. Demokrasi yang notabene milik masyarakat egaliter dikembangkan pada sistem
sosial yang lebih sesuai untuk feodalisme.
Mengenai postur militer India, khususnya yang berkaitan dengan Indonesia, pembaca dapat
menyimak tulisan Analisa Potensi Ancaman : India, yang
juga terdapat pada Ksatrian. Mungkin yang perlu ditambahkan adalah bahwa dengan kekuatan 1 juta
prajurit, dilengkapi peralatan moderen dengan industri pendukung, serta anggaran militer yang
sangat besar, militer India merupakan salah satu yang terkuat di dunia saat ini. Di Asia ia hanya
dapat ditandingi oleh RRC. Adanya gabungan kekuatan militer, ekonomi, sosial, politik, sumber
daya, serta teknologi memberi kesempatan bagi India untuk berkembang menjadi salah satu adidaya
Asia.
Proyeksi Kemiliteran
Angkatan Darat dengan bangga menantikan 300 T-90 Russia, selain berbagai macam radar, UAV,
howitzer dan roket BM21 Grad M yang akan memperkuat peluncur roket lokal Arjun. Sebagian
besar amunisi dibeli dari Israel. Demikian pula banyak proses upgrade persenjataan
dilakukan dengan bantuan Israel.
Angkatan Laut akan diperkuat dengan MiG-29K yang satu paket dengan kapal induk Admiral
Gorshkov. Banyak kritik tentang hal ini, karena Gorshkov sebenarnya tidak dibuat
untuk mengangkut MiG-29K, bahkan lebih merupakan pengangkut helikopter, atau maksimal Yak.
Implementasi MiG-29 untuk carrier base aircraft sendiri masih belum populer.
Angkatan Udara menantikan kedatangan 50 SU-30MKI yang disertai dengan alih teknologi. Ini
menandai peningkatan standar fighter India, sekali pun dalam implementasinya masih
bermasalah.
Pasokan Kemiliteran
Ancaman dan permusuhan
India telah empat kali berperang melawan Pakistan. Teoritis, kekuatan militer India masih di
atas Pakistan. Demikian pula dalam hal teknologi, ekonomi, industri, sosial dan politik.
Kekuatan militer Pakistan utamanya dapat berkembang salah satunya karena dukungan politis dari
Amerika Serikat, khususnya dalam era Perang Dingin dalam strategi peyangga menghadapi Russia
di Afghanistan. Setelah berakhirnya perang dingin, Pakistan kehilangan nilai strategis bagi AS,
dan dengan demikian AS memberlakukan penghentian seluruh bantuan ke Pakistan sejak Oktober 1990
(Pressler Amandement).
Perang perbatasan Cina-India berakhir dengan kekalahan tragis militer India. Hal ini mendorong
India untuk mengembangkan militernya baik konvensional maupun non-konvensional dengan kemampuan
untuk menghadapi Cina. Langkah ke arah ini dapat dilihat misalnya dengan rencana pengadaan 300
TUT T-90, yang jelas dimaksudkan untuk pertahanan menghadapi Cina.
Berbagai fundamentalisme mengancam India. Yang terbesar di antaranya adalah fundamentalisme
Islam, Tamil dan Hindu. Ancaman fundamentalisme diwujudkan dalam bentuk kekacauan, terorisme,
serta separatisme.
Hubungan Luar Negeri
India adalah bagian dari politik luar negeri Soviet di Asia. Itu waktu Sovyet masih ada.
Kebijakan politik India yang non-alignment (non-blok) memberi Soviet pijakan di Asia
Selatan. Soviet menjadi pemasok terbesar bagi militer India, menjamin adanya pasokan kemiliteran
yang bebas dari persyaratan berat dan resiko embargo.
Amerika Serikat menerapkan embargo militer pada India sejak lama karena upayanya untuk memiliki
senjata nuklir. Embargo militer tersebut masih berlaku hingga sekarang setidaknya untuk
peralatan militer yang sensitif, karena India menolak menandatangani NPT dan CTBT.
Prancis termasuk pemasok senjata bagi India. Teknologi nuklir India pada awalnya berasal dari
Prancis. Sikap Prancis yang non-alignment membuatnya tidak terlalu dipengaruhi oleh AS.
Namun setelah India menolak menandatangani NPT, tekanan dunia mengharuskan Prancis untuk turut
membatasi teknologi yang dipasok ke India.
Inggris merupakan bapak India. Sebagai negara commonwealth, India secara tradisi mendapat
perlindungan dari Inggris. Hanya saja saat ini, pamor Kerajaan Inggris sudah hilang dari dunia,
bahkan mendapat julukan Putra Mahkota yang Memalukan, The Prince of Charm, to be King of
Buckingham, Defender of adultery (plesetan dari Prince of Wales, to be King of England,
Defender of Faith), sedang sumber daya yang dimilikinya jauh dari mencukupi untuk dapat
menjadi adidaya di zaman moderen ini.
Asean adalah tempat bagi bagi bangsa-bangsa yang cinta damai. Asean membawa dampak positif bagi
seluruh bangsa di dunia kecuali bagi Indonesia. Terimakasih pada para pejabat di Jakarta yang
lebih senang memberi makan Singapura daripada mengurusi kemajuan Irian. ARF (ASEAN Regional
Forum) sangat bermanfaat bagi India untuk melakukan komunikasi akrab yang terbuka dengan
negara-negara lain. Hanya saja dalam forum regional yang cukup luas seperti itu India sering
menjadi bulan-bulanan karena sikapnya yang tidak mau menandatangani NPT dan CTBT. Pelajaran dari
Asean digunakan oleh India untuk membentuk kumpulan regionalnya sendiri, Bimstec, yang
terdiri atas Bangladesh, India, Myanmar, Sri Lanka dan Thailand.
Israel, negeri kecil dengan kekuatan besar ini, adalah kunci dalam pengembangan militer
negara-negara berkembang. India menyadari hal ini sejak 1992. Sebelumnya, sama seperti Indonesia,
desakan fanatik dalam negeri, serta kebijakan politik untuk mengambil hati kaum fanatik
menghalangi dibukanya hubungan diplomatik dengan Israel. Kunjungan Presiden Israel Ezer Weizman
tahun 1996 mewakili akhir dari kebijakan tak-berdasar tersebut. Dari hubungan ini India
memperoleh keuntungan yang sangat besar, terutama karena Israel tidak terlalu pelit dalam
pengalihan teknologi. Israel bahkan tidak mempermasalahkan kedekatan hubungan politik India
dengan Iran, atau negara-negara Arab yang masih ingin membuang Israel kelaut. Dari Israel, India
memperoleh amunisi, radar, FAC, electronic warfare system, UAV, serta upgrade
berbagai peralatan militer. Israel terkenal dalam pemanfaatan mesin-mesin militer lama dan
mengubahnya menjadi peralatan moderen, serta membuat sendiri suku cadang untuk menghindari
embargo, baik peralatan Rusia maupun AS dan Eropa. Dengan naiknya beaya produksi di Rusia akibat
gejolak internal, Israel saat ini merupakan pemasok senjata nomor dua untuk India.
Ambisi India
Kebutuhan India dari Indonesia
Kebutuhan Indonesia dari India
Melakukan produksi peralatan militer dan amunisi dengan perjanjian untuk saling memberi
pasokan bila dibutuhkan.
Melakukan evaluasi bersama untuk pembelian peralatan tempur, dengan demikian dapat melakukan
penawaran yang lebih baik, serta follow-up seperti pembelian bersama, pembangunan suku
cadang dengan saling silang, dsb.
Bersama-sama membeli peralatan perang, dengan jumlah yang besar dapat diharapkan harga lebih
rendah, bahkan transfer teknologi.
Memadukan riset peralatan tertentu. Akan lebih banyak merupakan pemindahan teknologi ke
Indonesia.
Produksi bersama peralatan perang, misalnya antara Russia, India dan Indonesia.
Penerapan cara ini antara lain adalah pada pembangkitan listrik tenaga nuklir, yaitu jika India
dapat memberikan teknologi dengan harga paling rendah. Daftar teknis yang lebih lengkap tentang
hal ini harus diperoleh dengan penyigian.
Kondisi keterbatasan hubungan
Hambatan dalam implementasi
| Tulisan
| Sistem Senjata
| Kajian
| Arsip|
| Polri
| Resimen Mahasiswa
| TNI|
| Halaman Utama |