Salah satu penanda tingkat peradaban suatu bangsa, adalah jumlah catatan
yang dibuat atau diwariskan. Banyak bangsa yang terhapus jejak keberadaannya
dari muka Bumi ini, gara-gara mereka tidak meninggalkan catatan mengenai
kehidupan mereka. Kalau pun ada, maka jumlahnya amat sedikit. Dan di antara
yang sedikit itu, tidak terlalu banyak bahan yang bisa dikembangkan untuk
merekonstruksi keadaan aslinya.
Diberkatilah mereka yang mempunyai kemampuan dan kegemaran menulis, karena
itu mengartikan bahwa mereka -sadar atau tidak sadar- ikut membentuk citra
keberadaan masyarakatnya, ribuan -atau malah lebih- tahun kemudian,
sekiranya keberadaannya sudah tersingkir dari alam ini. Inilah, yang antara
lain dilakukan oleh sekelompok peneliti yang tinggal di Bandung.
Dengan status sebagai sukarelawan -artinya tidak mendapatkan gaji dari
kegiatan yang dilakukan- mereka mulai menyusuri masa silam, ke masa awal
lahirnya Republik ini, untuk menuangkannya dalam sebuah buku. Kegiatan ini
sendiri dimulai pada tahun 1997, sebagai bagian kerja yang lebih besar,
yaitu menggali peran peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) pada tahun 1946.
Buku ini sendiri selesai ditulis pada tahun 2002. Bukan suatu waktu yang
singkat, memang.
Dalam penggalan-penggalan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik
Indonesia (RI), ada sejumlah peristiwa yang 'beruntung' mendapatkan tempat
dalam buku-buku resmi kesejarahan. Namun pada sisi lain, ada yang bernasib
'sial', karena tersisihkan. Inilah yang dirasakan sebagian warga Bandung,
mengenai peristiwa BLA, ketika tidak dianggap penting untuk dimuat dalam
buku Sejarah Nasional Indonesia, yang ditulis oleh Marwati Djoened
Poesponegoro dan (alm) Nugroho Notosusanto (1990).
Namun bukan sekadar itu yang ingin disampaikan, melainkan bagaimana
sebenarnya keadaan yang ada, dialami, dilakukan dan menjadi pilihan
masyarakat dan para penentu kebijakan saat itu. Sungguh tak dapat kita
bayangkan, bahwa jika pilihan tersebut ada pada saat ini, yaitu melakukan
pembakaran rumah dan harta benda, agar musuh tak dapat mengambil keuntungan
apa pun, maka kita akan dengan serta-merta melakukannya. Itulah yang ingin
disampaikan buku ini, yaitu kesertamertaan dalam melakukan apa pun bagi
Tanah Air, bukan semata pemanis di bibir, yang lazim kita dengar saat ini.
Sebagai sebuah karya yang bersandarkan antara lain pada para pelaku sejarah
- para pimpinan militer saat itu, para pejuang dan tentunya masyarakat
sendiri- maka buku ini mempunyai nilai tersendiri. Akan tampak betapa
sederhananya -namun sekaligus jelas, karena hanya memilih Ya atau Tidak-
rakyat menerjemahkan semboyan Merdeka atau Mati !
Ada juga sejumlah hal menarik, di antaranya mengenai sejarah penciptaan lagu
Halo-halo Bandung, yang berlatar belakang BLA. Dalam hal ini,
(alm) Pak Kasur ternyata mempunyai peran penting dalam menyebarkan lagu itu.
Kalau pun menyebut kekurangan, maka tampaknya buku ini akan lebih menarik
jika disertai dengan peta sekarang daerah-daerah yang disebutkan dalam
pengisahan. Saya sendiri hanya bisa membayangkan di mana letak kejadian,
karena pernah berada di Kota Bandung. Namun di luar itu, para penulis dan
penyusun buku ini sudah berusaha keras untuk mengajak para pembacanya untuk
terlibat dalam suasana waktu itu. Terdapat sejumlah sejumlah keterangan
tambahan dalam bingkai, untuk menjelaskan lebih rinci mengenai suatu bagian.
Ini seperti berada dalam museum dan didampingi oleh pemandu.
Bagi para pemerhati dan pengamat sejarah perjuangan, buku ini layak
dijadikan bahan tambahan untuk meluaskan pengetahuan. Dan yang lebih penting
adalah bahwa kerja seperti ini seyogyanya memancing siapa pun yang berminat,
untuk juga turut serta dalam memetakan peristiwa-peristiwa perjuangan dan
kejuangan di daerahnya masing-masing, untuk memperkaya khazanah kesejarahan
kita sendiri.
Judul
Saya Pilih Mengungsi : Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan
Penulis
Ratnayu Sitaresmi,
Aan Abdurachman,
Ristadi widodo Kinartojo dan
Ummy Latifah widodo
Penerbit
Kerja sama :
Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung
dan
Penerbit Bunaya
Gambar Sampul

Depan
(perbesar gambar)

Belakang
(perbesar gambar)
Cetakan
Pertama, Maret 2002
Halaman
xii + 171
Ukuran
250 mm x 175 mm
Berat
355,00 gram
Tinjauan
(Buku ini bisa dipesan melalui internet)
Penerangan
Andi Abubakar
(arakabuba@email.com)
Ratnayu Sitaresmi
(rsitaresmi@bdg.centrin.net.id)
Ristadi Widodo Kinartojo
(ristadi_w_k@yahoo.com)
| Artikel
| Sistem Senjata
| Kajian
| Arsip|
| Polri
| Resimen Mahasiswa
| TNI|
| Halaman Utama |