Lahirnya Komando Daerah Militer II Sriwijaya
(Kodam II
/
Swj)
berakar pada perjuangan rakyat Sumatera bagian Selatan (Sumbagsel),
sebagai bagian dari perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut,
mempertahankan dan membela kemerdekaan yang diproklamirkan pada 17
Agustus 1945.
Setelah saat bersejarah itu, maka pada tanggal 19 Agustus 1945 kesatuan
Gyugun di seluruh Sumbagsel dibubarkan pemerintah pendudukan Jepang.
Berita Proklamasi Kemerdekaan baru diketahui penduduk pada tanggal 22
Agustus 1945, yang kemudian memicu semangat dan spontanitas masyarakat
Sumbagsel.
Para bekas perwira Gyugun yang telah dilucuti Jepang, kemudian
berkumpul di Palembang pada tanggal 25 Agustus 1945, menemui dr. Adnan Kapau Gani
untuk membicarakan pembentukan suatu badan resmi sebagai aparat negara untuk menjaga
keamanan dan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan. Sebagai hasilnya adalah
terbentuknya Badan Penjaga Keamanan Rakyat (BPKR)
Semula hari jadi Kodam adalah tanggal 25 Agustus 1945, sekaligus hari
Korps Sriwijaya. Tanggal ini ditetapkan sebagai titik awal kekuatan
perlawanan para pejuang di daerah Sumbagsel. Kodam II/Swj secara
kesejarahan dilahirkan dalam ujud Korps Sriwijaya dan secara struktural
merupakan bagian terpadu dari organisasi ABRI.
Setelah adanya re-organisasi tubuh ABRI, maka ditinjau dan diteliti
pula hari jadi Kesatuan di jajaran ABRI. Hal ini kemudian menghasilkan
kebijakan pimpinan ABRI untuk memutuskan bahwa hari lahir Kesatuan di
jajaran ABRI tidak boleh tua dibandingkan hari ABRI. Berdasarkan
penetapan, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) kemudian meminta kepada
jajaran TNI-AD untuk meninjau dan mengusulkan hari jadi Kesatuan,
termasuk Kodam II/Swj.
Sehubungan dengan hal itu, ditetapkan bahwa hari jadi Kodam II/Swj
menjadi 1 Januari 1946. Latar belakangnya adalah sebagai berikut:
Dalam rangka penyusunan organisasi Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
maka pada bulan Desember 1945, dr. AK Gani -sebagai salah seorang
tokoh perjuangan nasional yang berkedudukan di Palembang- ditunjuk
oleh markas besar TKR di Yogyakarta sebagai koordinator pembentukan
TKR seluruh pulau Sumatera. Dengan wewenang yang ada, kemudian dr. AK
Gani membentuk TKR Komandemen Sumatera, berkedudukan di Bukit Tinggi,
Sumatera Barat. Bertindak sebagai Panglima dan Kepala Staf adalah :
Mayor Jendral Soehardjo Hardjowardojo dan M. Noeh.
Konferensi TKR di Bukit Tinggi pada tanggal 17 Mei 1946 memutuskan
bahwa kekuatan militer di Sumatera Selatan adalah satu sub komandemen, yaitu Sub
Komandemen Sumatera Selatan
(
Subkoss
)
yang membawahkan 2 divisi. Keputusan ini berlaku surut, yaitu sejak
tanggal 1 Januari 1946. Divisi I Garuda dipimpin oleh Kolonel Simbolon,
bermarkas di Lahat berkekuatan 4 resimen, yang disebarkan di Bengkulu, Baturaja,
Lahat dan Tanjung Karang. Divisi II dipimpin oleh Kolonel Hasan Kasim, bermarkas
di Palembang, dengan kekuatan disebar di Jambi dan Bangka.
Dengan demikian tanggal ini merupakan titik awal tersusunnya kesatuan-kesatuan
perjuangan bersenjata dalam wilayah Sumbagsel, sekaligus secara resmi menerima
panji-panji TKR sebagai ikatan korps di bawah naungan dan pengendalian satu
komando.
Pada tanggal 10 Januari 1947, Subkoss dihapuskan. Sebagai gantinya, semua
kekuatan bersenjata bergabung dalam Divisi Garuda VIII, yang membawahkan tiga
resimen dan satu brigade pertempuran Garuda Merah, ditambah satu batalyon
istimewa. Markas Divisi ditetapkan berkedudukan di Lahat.
Untuk perang gerilya, diperlukan kekuatan berstruktur bersenjata. Akibatnya,
Divisi VIII diubah lagi menjadi Subkoss, yang terdiri dari 3 sub teritorial.
Markas Subkoss ditetapkan di Muara Beliti, sementara markas sub-sub teritorial
di Jambi, Palembang dan Tanjung Karang.
Pada tanggal 17 Desember 1949, keberadaan sub-sub teritorial digantikan oleh
sebuah brigade yang membawahkan 5 batalyon infantri. Jambi dan Lampung
masing-masing ditempati oleh 1 batalyon, sementara Palembang dijatahkan 3.
Selanjutnya berdasarkan keputusan KASAD No. 83/KSAD/Pat/1950, pada tanggal
29 Juli 1950, brigade tersebut beralih rupa menjadi Teritorium II / Sumatera,
yang lebih dikenal dengan sebutan TT II / Sriwijaya.
Berdasarkan surat keputusan Kasad Nomor Skep/953/10/1959 tanggal 25 Oktober
1959 dan keputusan Panglima Nomor 222/1/1961 tanggal 19 November 1961,
Teritorium II / Sriwijaya berubah menjadi Kodam IV / Sriwijaya.
Dalam rangka reorganisasi ABRI, maka berdasarkan surat keputusan Kasad Nomor
346/II/1985 tanggal 12 Februari 1985, Kodam IV / Sriwijaya menjadi Kodam II / Sriwijaya.
Perubahan ini diresmikan di Jakarta pada tanggal 9 April 1985, ditandai dengan
penyerahan pataka Komando, sedangkan daerah tanggung jawab meliputi wilayah
Kodam IV / Sriwijaya. Markas Kodam. ditetapkan berkedudukan di bekas Markas
Kodam IV / Sriwijaya.
Wilayah Kodam II / Sriwijaya meliputi 4 daerah provinsi, yaitu Bengkulu, Jambi, Lampung
dan Sumsel, yang masing-masing dibawahkan oleh 1 Komando Resort Militer :
Pada tanggal 5 Oktober 1946, Kepala Staf Umum Markas Besar Tentara Republik
Indonesia telah datang di Palembang untuk menyerahkan Lambang atau Panji
"Burung Garuda" kepada Divisi I dan Divisi II TRI di Sumsel. Masing-masing
diberikan kepada komandan divisi Letkol. Burlian dan Letkol. Bambang Utoyo.
Upaya penganugerahan panji itu berlangsung di bekas landasan udara Jepang di
daerah 3 ilir, Sungai Buah, Palembang. Upacara ini dihadiri oleh Mayjen.
Suhardjo Hardjowardojo sebagai Panglima Sumatera, serta Kolonel Simbolon
sebagai Panglima Sub Komandemen Sumatera Selatan. Pemberian lambang, selain
untuk memberikan kebanggan kepada Kesatuan, juga dimaksudkan untuk mempersatukan
seluruh kesatuan bersenjata yang ada di daerah ini, sebagai suatu kekuatan
yang terpadu.
Kemudian, Lambang Garuda disempurnakan pada tahun 1954 menjadi Panji Tentara
Teritorium II/Sriwijaya. Akhirnya pada tahun 1972 Panji ini diresmikan sebagai
Pataka Kodam IV/Sriwijaya.
Motto Kodam II/Sriwijaya adalah:
"
Patah tumbuh hilang berganti
"
yang menunjukkan bahwa warga korps berjuang dengan gagah berani, rela dan
ikhlas gugur untuk tanah air.
| Tulisan
| Sistem Senjata
| Kajian
| Arsip|
Komando Daerah Militer II Sriwijaya
Disalin dengan perbaikan dari majalah Teknologi dan Strategi Militer No. 31/III/1990, serta
tambahan dari artikel pada harian Sriwijaya Post
edisi 11 Januari 2001, halaman 2.
Korps Sriwijaya
Penetapan Hari Jadi Kodam II / Swj
Lambang dan Motto Kodam II / Sriwijaya
Pengabdian Kodam II / Sriwijaya
| Polri
| Resimen Mahasiswa
| TNI|
| Halaman Utama |