Komando Daerah Militer II Sriwijaya


Disalin dengan perbaikan dari majalah Teknologi dan Strategi Militer No. 31/III/1990, serta tambahan dari artikel pada harian Sriwijaya Post edisi 11 Januari 2001, halaman 2.

Lahirnya Komando Daerah Militer II Sriwijaya (Kodam II / Swj) berakar pada perjuangan rakyat Sumatera bagian Selatan (Sumbagsel), sebagai bagian dari perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut, mempertahankan dan membela kemerdekaan yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.

Setelah saat bersejarah itu, maka pada tanggal 19 Agustus 1945 kesatuan Gyugun di seluruh Sumbagsel dibubarkan pemerintah pendudukan Jepang. Berita Proklamasi Kemerdekaan baru diketahui penduduk pada tanggal 22 Agustus 1945, yang kemudian memicu semangat dan spontanitas masyarakat Sumbagsel.

Para bekas perwira Gyugun yang telah dilucuti Jepang, kemudian berkumpul di Palembang pada tanggal 25 Agustus 1945, menemui dr. Adnan Kapau Gani untuk membicarakan pembentukan suatu badan resmi sebagai aparat negara untuk menjaga keamanan dan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan. Sebagai hasilnya adalah terbentuknya Badan Penjaga Keamanan Rakyat (BPKR)


Korps Sriwijaya

Semula hari jadi Kodam adalah tanggal 25 Agustus 1945, sekaligus hari Korps Sriwijaya. Tanggal ini ditetapkan sebagai titik awal kekuatan perlawanan para pejuang di daerah Sumbagsel. Kodam II/Swj secara kesejarahan dilahirkan dalam ujud Korps Sriwijaya dan secara struktural merupakan bagian terpadu dari organisasi ABRI.

Setelah adanya re-organisasi tubuh ABRI, maka ditinjau dan diteliti pula hari jadi Kesatuan di jajaran ABRI. Hal ini kemudian menghasilkan kebijakan pimpinan ABRI untuk memutuskan bahwa hari lahir Kesatuan di jajaran ABRI tidak boleh tua dibandingkan hari ABRI. Berdasarkan penetapan, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) kemudian meminta kepada jajaran TNI-AD untuk meninjau dan mengusulkan hari jadi Kesatuan, termasuk Kodam II/Swj.


Penetapan Hari Jadi Kodam II / Swj

Sehubungan dengan hal itu, ditetapkan bahwa hari jadi Kodam II/Swj menjadi 1 Januari 1946. Latar belakangnya adalah sebagai berikut:

Dalam rangka penyusunan organisasi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) maka pada bulan Desember 1945, dr. AK Gani -sebagai salah seorang tokoh perjuangan nasional yang berkedudukan di Palembang- ditunjuk oleh markas besar TKR di Yogyakarta sebagai koordinator pembentukan TKR seluruh pulau Sumatera. Dengan wewenang yang ada, kemudian dr. AK Gani membentuk TKR Komandemen Sumatera, berkedudukan di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Bertindak sebagai Panglima dan Kepala Staf adalah : Mayor Jendral Soehardjo Hardjowardojo dan M. Noeh.

Konferensi TKR di Bukit Tinggi pada tanggal 17 Mei 1946 memutuskan bahwa kekuatan militer di Sumatera Selatan adalah satu sub komandemen, yaitu Sub Komandemen Sumatera Selatan ( Subkoss ) yang membawahkan 2 divisi. Keputusan ini berlaku surut, yaitu sejak tanggal 1 Januari 1946. Divisi I Garuda dipimpin oleh Kolonel Simbolon, bermarkas di Lahat berkekuatan 4 resimen, yang disebarkan di Bengkulu, Baturaja, Lahat dan Tanjung Karang. Divisi II dipimpin oleh Kolonel Hasan Kasim, bermarkas di Palembang, dengan kekuatan disebar di Jambi dan Bangka.

Dengan demikian tanggal ini merupakan titik awal tersusunnya kesatuan-kesatuan perjuangan bersenjata dalam wilayah Sumbagsel, sekaligus secara resmi menerima panji-panji TKR sebagai ikatan korps di bawah naungan dan pengendalian satu komando.

Pada tanggal 10 Januari 1947, Subkoss dihapuskan. Sebagai gantinya, semua kekuatan bersenjata bergabung dalam Divisi Garuda VIII, yang membawahkan tiga resimen dan satu brigade pertempuran Garuda Merah, ditambah satu batalyon istimewa. Markas Divisi ditetapkan berkedudukan di Lahat.

Untuk perang gerilya, diperlukan kekuatan berstruktur bersenjata. Akibatnya, Divisi VIII diubah lagi menjadi Subkoss, yang terdiri dari 3 sub teritorial. Markas Subkoss ditetapkan di Muara Beliti, sementara markas sub-sub teritorial di Jambi, Palembang dan Tanjung Karang.

Pada tanggal 17 Desember 1949, keberadaan sub-sub teritorial digantikan oleh sebuah brigade yang membawahkan 5 batalyon infantri. Jambi dan Lampung masing-masing ditempati oleh 1 batalyon, sementara Palembang dijatahkan 3.

Selanjutnya berdasarkan keputusan KASAD No. 83/KSAD/Pat/1950, pada tanggal 29 Juli 1950, brigade tersebut beralih rupa menjadi Teritorium II / Sumatera, yang lebih dikenal dengan sebutan TT II / Sriwijaya.

Berdasarkan surat keputusan Kasad Nomor Skep/953/10/1959 tanggal 25 Oktober 1959 dan keputusan Panglima Nomor 222/1/1961 tanggal 19 November 1961, Teritorium II / Sriwijaya berubah menjadi Kodam IV / Sriwijaya.

Dalam rangka reorganisasi ABRI, maka berdasarkan surat keputusan Kasad Nomor 346/II/1985 tanggal 12 Februari 1985, Kodam IV / Sriwijaya menjadi Kodam II / Sriwijaya.

Perubahan ini diresmikan di Jakarta pada tanggal 9 April 1985, ditandai dengan penyerahan pataka Komando, sedangkan daerah tanggung jawab meliputi wilayah Kodam IV / Sriwijaya. Markas Kodam. ditetapkan berkedudukan di bekas Markas Kodam IV / Sriwijaya.

Wilayah Kodam II / Sriwijaya meliputi 4 daerah provinsi, yaitu Bengkulu, Jambi, Lampung dan Sumsel, yang masing-masing dibawahkan oleh 1 Komando Resort Militer :


Lambang dan Motto Kodam II / Sriwijaya

Pada tanggal 5 Oktober 1946, Kepala Staf Umum Markas Besar Tentara Republik Indonesia telah datang di Palembang untuk menyerahkan Lambang atau Panji "Burung Garuda" kepada Divisi I dan Divisi II TRI di Sumsel. Masing-masing diberikan kepada komandan divisi Letkol. Burlian dan Letkol. Bambang Utoyo.

Upaya penganugerahan panji itu berlangsung di bekas landasan udara Jepang di daerah 3 ilir, Sungai Buah, Palembang. Upacara ini dihadiri oleh Mayjen. Suhardjo Hardjowardojo sebagai Panglima Sumatera, serta Kolonel Simbolon sebagai Panglima Sub Komandemen Sumatera Selatan. Pemberian lambang, selain untuk memberikan kebanggan kepada Kesatuan, juga dimaksudkan untuk mempersatukan seluruh kesatuan bersenjata yang ada di daerah ini, sebagai suatu kekuatan yang terpadu.

Kemudian, Lambang Garuda disempurnakan pada tahun 1954 menjadi Panji Tentara Teritorium II/Sriwijaya. Akhirnya pada tahun 1972 Panji ini diresmikan sebagai Pataka Kodam IV/Sriwijaya.

Motto Kodam II/Sriwijaya adalah: " Patah tumbuh hilang berganti " yang menunjukkan bahwa warga korps berjuang dengan gagah berani, rela dan ikhlas gugur untuk tanah air.


Pengabdian Kodam II / Sriwijaya

  • Operasi tempur penumpasan Republik Maluku Selatan, sejak tahun 1950, sebanyak 6 penugasan.

  • Operasi tempur penumpasan gerakan DI/TII di Jawa Barat dan Aceh, tahun 1950 - 1955, sebanyak 6 penugasan.

  • Operasi tempur penumpasan gerakan PRRI/Permesta, tahun 1957-1958.

  • Penumpasan G30S/PKI, tahun 1965.

  • Penumpasan PGRS Paraku (Kalimantan Barat), oleh Yonif 144.

  • Penumpasan gerakan ekstrem kiri dan ekstrem kanan di Sumbagsel (eks DI/ TII dan Komando Jihad).

  • Penugasan di Vietnam dalam rangka ICCS, tahun 1976.

  • Penugasan sebagai anggota Kontingen Garuda VIII di Timur Tengah, tahun 1978.

  • Operasi Teritorial Seroja di Timor Timur.

  • Operasi Manunggal TNI-ABRI Masuk Desa di keempat provinsi, sebanyak 32 kali.

  • Operasi Manunggal Reboisasi I-IV pada tahun 1983-...

  • Operasi pemberantasan pasir timah di Pulau bangka, sejak tahun 1979, dilanjutkan dengan Operasi Mantap sampai dengan sekarang.

  • Operasi Ganesha, tahun 1982

  • Operasi Pemindahan gajah di daerah pemukiman Transmigrasi Air Sugihan ke Lebong Hitam, Sumsel.

  • Operasi Guntur I-VI, tahun 1982-1987.

  • Operasi pencegahan, penumpasan kejahatan dengan kekerasan dan ancaman terhadap angkutan darat, di sepanjang jalur rawan jalan raya, sungai dan terminal di wilayah Sumbagsel.

  • Operasi Tumpas pada tahun 1986, untuk mencegah dan menanggulangi kegiatan penyelundupan di wilayah Sumbagsel.

  • Operasi "Betha" pada tahun 1987, untuk menertibkan dan mengamati pemakai dan pengguna liar alat peralatan dan frekuensi radio umum di wilayah Sumbagsel.

  • Operasi Tongkol pada tahun 1988, untuk mengamankan wilayah perairan Sumbagsel, terhadap pencurian ikan dan angkutan perairan.

  • Operasi Tanjung Kerta pada tahun 1983, untuk mengungkap dan menggagalkan usaha-usaha yang merugikan kegiatan perkeretaapian di Sumbagsel.

  • Operasi Wibawa pada tahun 1989, untuk mencegah dan menghancurkan GPK Warsidi di wilayah Lampung.

  • Operasi Wibawa I pada tahun 1989, untuk menumpas sisa-sisa dan pengaruh GPK Warsidi serta membina dan memperbaiki daerah Lampung dan sekitarnya.


  • Para Panglima Kodam II / Sriwijaya


    Kirim saran untuk Pemelihara Ksatrian

    | Tulisan | Sistem Senjata | Kajian | Arsip|
    | Polri | Resimen Mahasiswa | TNI|
    | Halaman Utama |